Berita Bola

Lemahnya Peluang Indonesia Turut Bergabung dalam Pemilihan Tuan Rumah Piala Dunia

Sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang, Indonesia masih ramai membicarakan soal peluang menjadi tuan rumah di Piala Dunia. Bukanlah menjadi hal tak mungkin jika negara kita bersama dengan pemerintah dan rakyatnya saling mendukung satu sama lain. Meskipun masih terkendala masalah biaya tetapi tetap ada berbagai macam cara yang bisa digunakan, salah satunya bekerjasama dengan negara ASEAN lain. Bahkan para pejabat tinggi dalam pemerintahan sendiri mengaku jika Indonesia belum sanggup menjadi tuan rumah tunggal, mengingat modal utama yang dikeluarkan sangatlah besar.

Kita dapat belajar dari Piala Dunia 2018 saat ini dimana Rusia telah mengeluarkan dana sampai 11,8 milyar ollar Amerika atau bisa lebih. Alokasi dana tersebut paling banyak dihabiskan di bidang pembangunan negara, terutama tiap kota yang menjadi tempat terselenggaranya acara, mulai dari membangun infrastruktur, stadion internasional, sarana transportasi, bandara, hotel berbintang, dan fasilitas umum lainnya. Belum lagi Vladimir Putin meminta pemerintahan memudahkan wisatawan dan para supporter Piala Dunia dalam masalah pemenuhan visa serta mengratiskan perjalanan antar kota tujuan turnamen.

Benarkah Indonesia Mempunyai Peluang Besar?

Jika dilihat sekilas memang Indonesia seakan belum siap baik secara materi maupun mental untuk menjadi tuan rumah ajang bergengsi Piala Dunia. Butuh waktu teramat panjang untuk memperbaiki kondisi negara sekaligus membangun berbagai macam sektor terlebih dahulu. Pasalnya nanti akan ada banyak sekali wisatawan internasional baik untuk jalan-jalan maupun sekaligus menonton pertandingan. Jika belum terdapat fasilitas memadai maka bisa membuat kecewa masyarakat seluruh dunia bukan?

Sebenarnya Indonesia memang sudah berencana sejak lama untuk mendaftarkan diri menjadi calon kandidat tuan rumah. Karena tak mampu menjadi penyelenggara tunggal maka datanglah bantuan dari Thailand yang ingin bergabung. Dengan begitu Indonesia bersama Thailand akan bersama-sama menghelat turnamen Piala Dunia pada tahun 2034 mendatang. Sementara masih ada waktu sekitar 16 lagi supaya kedua negara saling melakukan pembenahan di berbagai sektor pemerintahan. Hal ini juga mendapatklan dukungan dari berbagai pihak seperti asosiasi AFF dan dewan perwakilan FIFA karena Piala Dunia belum pernah diadakan di kawasan Asia Tenggara. Oleh sebab itulah hal ini bakal menjadi momen seru dan menarik bagi para negara peserta karena akan bertanding di beberapa negara beriklim tropis yaitu Indonesia dan Thailand.

Disamping itu masih banyak pula hal-hal yang patut dipertimbangkan, salah satunya mengenai kelemahan dari Indonesia. Tentu FIFA akan mengambil keputusan matang dan tak ingin mngadakan turnamen World Cup di negara-negara tanpa prestasi sepak bola. Bahkan Rusia saja sempat dipandang sebelah mata karena belum pernah memenangkan Piala Dunia dan seringkali kalah di babak pertama. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Berikut ini adalah beberapa kelemahan yang membuat negara kita harus memikirkan ulang maju ke kandidat tuan rumah:

  1. Alasan pertama tentu saja karena uang modal karena Piala Dunia memakan budget teramat besar untuk negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan rakyat dan kebutuhan bangsa sangatlah banyak jika uang publik harus diinvestasikan kepada turnamen bergengsi semacam itu. Kemarin saja Rusia menghabiskan dana belasan milyar dollar yang sertara dengan ratusan triliun rupiah. Kemudian Brazil juga beberapa milyar dan Afrika Selatan ratusan juta dollar itupun masih kurang dan jumlahnya harus ditambahkan lagi karena mengikuti permintaan sponsor serta FIFA. Belum lagi adanya pajak yang diberikan kepada asosiasi FIFA sebagai bentuk keterlibatan sebagai kandidat tuan rumah Piala Dunia.
  2. Tim nasional Indonesia belum layak jika berhadapan dengan negara kuat seperti Jerman, Brazil, Argentina, Inggris, Portugal, Spanyol dan lain sebagainya. Para pemain harus mendapatkan pelatihan terbaik dan dukungan fasilitas memadai agar dapat mengembangkan potensi. Kemudian juga memperbanyak prestasi di bidang olahraga sepak bola standar internasional. Hal ini disebabkan memegang posisi tuan rumah Piala Dunia menjadi beban mental tersendiri karena jika tak mampu mengimbangi maka bisa menuai kritikan dari masyarakat dunia. Padahal salah satu tujuan menyelenggarakan turnamen tersebut adalah menaikkan popularitas dan bisnis negara. Jika dunia saja banyak menghujat, bagaimana mau mendapatkan keuntungan dan mengembalikan modal awal?
  3. Indonesia kekurangan pelatih profesional dan bersertifikat sehingga membuat perkembangan pemain tim nasionalnya juga sangat lamban. Saat ini hanya ada sekitar 3000 pelatih bersertifikat sementara Jepang saja 60.000 orang tetapi masih belum bisa dianggap setara dengan tim negara kuat Eropa atau Amerika. Salah satu pelatih, Indra Sjafri juga mengungkapkan jika Indonesia gudangnya pemain potensial dan handal tetapi sayangnya sebagian besar dari mereka tak ingin menjadi hebat.

Timnas Indonesia Berlaga di Piala Dunia

Sebelumnya telah dikabarkan apabila Indonesia akan bergabung dengan Thailand untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Keuntungan menjadi tuan rumah salah satunya adalah mendapatkan tiket emas masuk ke babak final secara otomatis. Tentu saja hal tersebut akan memberikan kesempatan besar bagi Indonesia untuk dikenal dan dipertimbangkan dunia. Meski begitu, ada baiknya jika timnas tidak terlalu mengandalkan tiket gratisan melainkan berusaha sendiri. Seperti yang telah diketahui jika sebagian besar para pemainnya masih kurang potensial dan kekurangan pelatih terbaik maka membuat Indonesia lemah jika harus melawan negara-negara kuat dalam pertandingan Piala Dunia. Akan tetapi beberapa taktik untuk mengembangkan kemampuan mereka, salah satunya dengan keluar dari kawasan Oseania dan bergabung dengan daerah lain. Kawasan ini terdiri dari negara-negara dengan kepulauan kecil dimana tim sepak bolanya bisa dikatakan jauh tertinggal, misalnya saja seperti Fiji dan Haiti. Namun Oseania seringkali didapuk untuk mewakili ajang internasional seperti Olimpiade Sepak Bola tahun 2016 silam. Karena begitu banyak kelemahan dan kekurangannya maka bisa merugikan pihak Indonesia. Fiji dan Haiti adalah tim negara paling kuat di Oseania namun kelimpungan ketika melawan Indonesia bahkan pernah kalah telak dari Australia dengan skor 31-0. Jika harus terus bergabung di kawasan tersebut, kemungkinan besar negara kita tak mampu melenggang manis di turnamen Piala Dunia dan layak menghadapi negara lainnya. Dimbah lagi kurang ketatnya kompetisi di kawasan tersebut sehingga membuat timnas kita kurang mendapat apresiasi dan prestasi di kancah internasional. Apabila hal tersebut sampai terjadi maka secara otomatis kesempatan menjadi tuan rumah di tahun 2034 mendatang hanya angan-angan belaka saja.

Kalau Indonesia sangat berambisi menggelar Piala Dunia 2034 nanti bersama Thailand maka sejak sekarang pemerintah harus mulai bergerak. Tak hanya memikirkan pembangunan dan perbaikan dalam negeri saja namun menjalin hubungan baik sekaligus mencari dukungan kuat dari berbagai pihak. Pasalnya saingan menuju ke proses pemilihan kandidat sangatlah ketat dimana harus bersaing dengan negara-negara Eropa atau bahkan Amerika yang punya pengaruh kuat di mata dunia. Bermodalkan dukungan positif dari perwakilan FIFA saja tidaklah cukup karena ada banyak hal harus dipikirkan.

Alasan Mengapa Pihak Rusia Kurang Pantas Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2018

Yang terpilih menyelenggarakan turnamen besar Piala Dunia 2018 adalah Rusia mulai tanggal 14 Juni sampai 15 Juli mendatang. Akan tetapi sempat terjadi pro dan kontral bahkan beberapa tahun sebelum acara akbar tersebut dimulai. Ditambah lagi negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putih tersebut seringkali membuat kontroversi di mata dunia, mulai dari korupsi, suap, pertikaian dengan negara lain dan sebagainya. Ini sebenarnya juga menjadi pertimbangan besar bagi FIFA ketika memutuskan menggelar Piala Dunia 2018 disana. Sempat sembilan tahun lalu terjadi insiden mengejutkan dimana Rusia dianggap terlibat kasus suap terhadap beberapa anggota komite utama FIFA yang langsung berhubungan dengan pemilihan tuan rumah. Namun hal tersebut disanggah oleh pihak FIFA kemudian melakukan investigasi panjang untuk membuktikan jika tuduhan tersebut salah. Pada akhirnya laporan investigasi keluar dan tidak ditunjukkan pada publik karena ingin melindungi kode etik.

Adanya Maksud Terselubung dari Vladimir Putin

Sebelum memulai turnamen Piala Dunia 2018, Vladimir Putin memberikan pidato yang berisi tentang ucapan selamat datang para peserta pertandingan. Ia mengatakan jika Rusia telah mempersiapkan berbagai hal mulai dari infrastruktur, stadion, fasilitas umum dan lain sebagainya. Sang presiden memastikan jika para tamu seperti atlit dan pasa penonton bisa merasa nyaman seperti di negara sendiri. Presiden Putin juga amat berbangga karena dapat membuktikkan pada dunia apabila negaranya mampu menjadi tuan rumah dalam turnamen mengalahkan enam kandidat lain seperti Inggris, Spanyol, Belanda dan sebagainya. Sementara sebagian besar masyarakat masih menganggap remeh karena Rusia mempunyai banyak masalah dan menghadapi krisis. Salah satu alasan diremehkannya negara tersebut karena sang pemimpin sendiri merupakan “diktator” dunia. seperti yang diungkapkan oleh Ian Austin, salah satu anggota Partai Buruh, bagian parlemen Inggirs mengungkapkan jika Putin hanya berusaha mencari cara untuk memperkuat popularitas saja. Austin bahkan menyamakan tindakan tersebut mirip dengan Hitler saat memanfaatkan Olimpiade 1936 untuk promosi parti Nazinya.

Selain itu, tokoh lain yang memberikan tanggapan atas Putin yaitu Boris Jonhson, menteri Luar Negeri Inggris. Dirinya menambahkan opini Austin jika presiden Rusia sedang berupaya membuat negara tersebut besar, kuat, dan punya kendali terhadap dunia setelah runtuhnya Uni Soviet. Meskipun terkesan sepert rasa iri terhadap kemenangan Rusia sebagai tuan rumah tapi ada beberapa hal yang sejalan dengan argumen tersebut. Mengingat negara Beruang Putih rela mengeluarkan budget sampai belasan milyar dollar Amerika demi menggelar turnamen Piala Dunia 2018 agar lebih meriah dibandingkan sebelumnya. Padahal negara tersebut sedang mengalami krisis dan anggaran dana diambil dari aset pemerintahan serta sebagian besar uang publik. Bukannya tak mungkin apabila Putin berencana memimpin dunia melalui ajang bergengsi tersebut walaupun harus membayarnya dengan harga mahal sekalipun.

Alasan yang Membuat Rusia Tak Pantai Jadi Tuan Rumah

Vladimir Putin memang menjadi alasan kuat mengapa negara lain meragukan jika Rusia pantas jadi tuan rumah. Meskipun pada kenyataannya hal tersebut sudah terjadi dan berjalan lancar sampai sekarang ini tetapi masih banyak sekali pro kontra mewarnainya. Adapun beberapa alasan mengapa negara tersebut dinilai tidak cocok sama sekali menyandang posisi sebagai tuan rumah turnamen sekelas Piala Dunia yaitu:

  1. Negara Rusia selama dibawah kepemimpinan Vladimir Putin banyak mengalami masalah dan kejadian kontroversial. Yang paling utama yaitu mengenai hal kemanusiaan sehingga membuat banyak pihak sekaligus negara bereaksi keras. Human Right Watch bahkan menganggap apabila selama periode Putin merupakan era paling buruk sejak Uni Soviet masih ada. Beberapa contoh kasus mengenai hal tersebut seperti aneksasi antara Ukraina dan Crimea yang masih bersitegang bahkan sampai detik ini. Selain itu ada pula insiden tuduhan mengenai penyebab kecelakaan Malaysia Airlines MH17 di Grabovo. Rusia juga terlibat skandal aturan doping di turnamen Olimpiade Musim Dingin 2014 dilam serta praktek suap di bidding Piala Dunia 2018 bersama Qatar. Meskipun sudah berlalu dan diperjelas tetapi citra Rusia tetap saja buruk di mata dunia bahkan mungkin akan terus teringat sepanjang masa.
  2. Munculnya kontroversi yang dilakukan Rusia dipimpin oleh Putin, diantaranya seperti isu rasial, skandal kasus suap atau pembelian suara, propoganda untuk mengecam LGBT, invasi milter di Ukraina, dan adanya keterlibatan negara di konflik Suriah.
  3. Anggapan kalau Piala Dunia 2018 menjadi salah satu strategi jitu bagi Putin untuk membuat Rusia menjadi negara unggul di dunia. Ia ingin membangkitkan lagi era Soviet yang sudah lama hancur. Sebagian besar negara dan pihak tertentu merasa khawatir jika sampai hal tersebut terjadi maka sifat kediktatoran Putin semakin menjadi-jadi dan sulit dihadapi.
  4. Terjadinya berbagai macam masalah di bidang sosial yang terjadi di dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satunya seperti rasialiasme saat upacara serah terima jabatan sebagai tuan rumah Piala Dunia oleh Brazil kepada Rusia pada bulan Juli 2014. Disamping itu juga sempat terjadi hal sama, tepatnya pada Oktober 2013 dimana salah seorang pemain gelandang Manchester City bernama Yaya Toure mengalami tindakan rasialisme di CSKA Moscow. Hal ini ditanggapi keras oleh Toure dengan mengatakan jika timnya tak akan datang ke Piala Dunia 2018 apabila insiden rasisme tersebut masih ada dan membuat mereka merasa tidak aman.
  5. Negara ini belum pernah memenangkan pertandingan skala internasional sama sekali. Bahkan beberapa waktu sempat mengikuti Piala Dunia tetapi langsung kalah di babak awal. Dengan begitu banyak sekali pihak berpendapat bahwa pemerintahan mereka tak layak menjadi tuan rumah karena kualitan tim nasional sepak bolanya saja begitu lemah.
  6. Rusia tercatat telah melakukan banyak sekali pelanggaran dalam permainan sepak bola sepanjang tahun 2017 sampai 2018. Bahkan hasil laporan penelitian tersebut diberi judul, Discriminatory Iincidents in Russian Football 2017-2018. Alasannya karena negara mereka terlalu banyak memberikan ancaman dan ejekan menyangkut ras suatu negara tertentu. Bahkan selama permainan berlangsung, seringkali ditemukan slogan dari Partai NAZI hampir di semua stadion. Meskipun hanya tulisan tetapi sangat mengganggu negara lain yang menjadi pesertanya, termasuk kawasan Eropa. Ditambah lagi sejarah mengenai Hitler dan NAZI kental sekali dengan isu rasialisme sehingga dianggap bisa menimbulkan kebencian dimana-mana.
  7. Adanya anggapan kalau pemerintahan Rusia merupakan Neo-NAZI sehingga mengancam para peserta Piala Dunia 2018 ketika bertanding satu lapangan. Seperti yang banyak orang ketahui apabila partai bentukan Hitler tersebut memang terlampau rasis sampai tak memedulikan sisi kemanusiaan dan kriminalisme karena menganggap rasnya paling tinggi dibandingkan lainnya.

Begitu banyak pihak yang kontra terhadap posisi tuan rumah Rusia dalam Piala Dunia 2018. Meskipun begitu negara Presiden Putin ini sendiri terus melakukan perjuangan demi mencari sebuah pengakuan jika Rusia memang pantas menduduki jabatan tersebut. Mau bagaimanapun lagi, tidak bisa dipungkiri kalau ajang World Cup menjadi salah satu sarana dan dianggap sebagai peluang emas bagi tiap negara untuk meraih popularitas bahkan mencapai tujuan tertentu.

Kylan Mbappe, Pemain termuda di ajang piala dunia

Cristiano dan Messi sering disebut sebagai pemain sepakbola terbaik di dunia saat ini. Raihan masing-masing lima trofi Ballon d’Or bisa jadi indikator sebutan pemain terbaik tersebut. Akan tetapi, mereka berdua sama-sama belum pernah meraih trofi Piala Dunia bersama negara masing-masing. Padahal, baik Messi dan Ronaldo sudah tampil di empat edisi Piala Dunia (2006, 2010, 2014 dan 2018).

bisa dikatakan, tidak ada yang membanggakan dari 2 pemain terbaik ini dalam ajang piala dunia. catatan buruk ini kalah dengan seorang remaja berusia 19 tahun,, yang baru pertama kali mencicipi ajang piala dunia. sang pemuda itu bernama Kylan Mbappe.

Mbappe, penyerang Prancis yang bermain di klub PSG, tampil luar biasa di Piala Dunia 2018. Ia mencetak gol-gol penting hingga mengantarkan Prancis jadi juara dunia. Mbappe mencetak satu gol saat Prancis mengalahkan Peru 1-0, serta lesakkan 2 pasang gol yang mengalahkan Argentina 4-3 di 16 besar. Kemudian, di partai final yang berlangsung semalam, penyerang muda belia itu mengemas satu gol saat Prancis mengalahkan Kroasia 4-2 di Stadion Luzhniki, Moskow.

Mantan penyerang AS Monaco itu mengkoleksi empat gol dari tujuh laga nya di Piala Dunia 2018. Catatan gol Mbappe hanya kalah tipis dari Ronaldo dan Messi yang sudah melewati banyak pertandingan di Piala Dunia. Messi mengkoleksi enam gol dari 19 laga. sedangkan Ronaldo mencetak tujuh gol dari 17 penampilan di Piala Dunia.

bukan tak mungkin, Mbappe bisa mengalahkan koleksi torehan gol nya di piala dunia berikutnya, mengingat usia ronaldo dan messi yang sudah tua, kemungkinan piala dunia tahun 2022 menjadi partisipasi mereka yang terakhir. Beda dengan Mbappe yang masih panjang perjalanan karirnya mengingat usia nya yang masih muda.

Toni Schumacher, Pemain Jerman Paling Kotor di Piala Dunia 1982

Toni Schumacher, Pemain Jerman Paling Kotor di Piala Dunia 1982

Sejak pertama kali digelar, Piala Dunia merupakan pertandingan sepak bola skala internasional paling bergengsi. Setiap empat tahun sekali mengadakan turnamen yang diikuti seluruh anggota Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA. Akan tetapi yang dapat mengikuti hanyalah tim nasional terbaik dan memenuhi syarat saja karena nanti akan bertanding melawan negara dengan anggota sepak bola hebat. Bahkan Indonesia sendiri hanya sempat beberapa kali saja mendapatkkan kesempatan tersebut. Sementara periode 2018 ini, negara kita masih vakum karena para pemainnya dianggap belum potensial untuk melenggang ke ajang tersebut.

Selama satu bulan penuh, Piala Dunia dalam satu periode tertentu pastilah menyisakan kisah atau tragedi bermacam-macam. Mulai dari kemenangan besar suatu timnas sampai dengan kejadian tragis dan tak terlupakan sepanjang sejarah. Misalnya saja seperti Piala Dunia tahun 1982 dimana pihak Jerman melawan Prancis. Kedua negara yang terkenal kuat dan empunyai banyak pemain handal sehingga diunggulkan oleh masyarakat dunia. pada waktu itu salah satu pemain dari Jerman bernama Toni Schumacher memang berhasil memberikan kemenangan telak hingga Prancis tak mampu mencetak satu skorpun. Namun sempat terjadi hal mengerikan bahkan dikatakan sangat brutal karena sang bintang lapangan menciderai lawannya yang bernama Battiston.

Jerman Merupakan Tim Paling Kotor di Piala Dunia

Kabar mengenai Jerman merupakan timnas paling kotor di sepanjang perhelatan Piala Dunia memang bukan dongeng lagi. Hal tersebut sepertinya sudah sangat melekat di pikiran masyarakat luas. Ditambah lagi dengan adanya penelitian mengenai daftar atau ranking negara-negara dengan total skor pelanggaran terbanyak dipegang oleh Jerman. Diungkapkan pula oleh media Mirror dimana menunjukan jika negara tersebut menerima 122 kartu kuning. Setiap kartu bewarna kuning mempunyai bobot skor 5 poin tetapi jika mendapatkan dua sekaligus maka poinya ada 7. Perhitungan menjadi banyak dikarenakan Jerman dibagi menjadi dua wilayah yaitu barat dan timur sehingga totalnya dijadikan satu. Selain itu, para pemain tim nasionalnya juga gemar sekali mengumpulkan pelanggaran, contohnya saja seperti yang dilakukan oleh Schumacher tahun 1982 silam.

Kemudian setelah Jerman, terdapat tim terkotor urutan kedua yakni Argentina karena mendapatkan pelanggaran sebanyak 630 poin. Sampai-sampai negara tersebut mendapatkan sebutan sebagai “binatang” oleh tim serta pelatih Inggris. Brazil menempati ranking ketiga dengan poin 100 dan berbagai pelanggarannya dapat dilihat sampai sekarang.

Toni Schumacher Jadi Pemain Terkotor

Kisah sang legenda, Toni Schumacher seakan-akan tidak akan pernah hilang dari peradaban Piala Dunia. Sampai saat ini masyarakat begitu jelas mengingat kejadian di lapangan hijau bersama tim nasional Prancis. Meskipun Jerman jauh lebih unggul tetapi kemenangan didapatkan bukan dari cara fair. Hal ini sudah dapat dinilai sendiri oleh para penontong di stadion ataupun penggemar sepak bola yang menonton pertandingaan naas tersebut. Kedua negara saling berhadapan satu sama lain di babak semifinal Piala Dunia 1982. Banyak orang menantikan turnamen kali itu dikarenakan ada banyak sekali nama pemain kondang. Dari Jerman terdapat Hans-Peter Briegel, Felix Magath, Paul Breitner dan Pierre Littbarski. Sementara di tim Prancis diantaranya Jean Tigana, Alain Giresse, Marius Tresor, dan Michel Platini. Dengan potensi dan kekuatan seimbang tersebut maka diprediksi kedua tim bakal bermain apik serta mengesankan, saling merebut nilai dan kemengan sebagai juara dunia.

Di awal pertandingan, Jerman sudah memimpin satu laga lebih awal ketika sedang memasuki menit ke-17. Salahs atu pemain bernama Klaus Fischer mengambil bola yang disergap oleh Jean-Luc Ettori selaku kipper Prancis. Beberapa menit kemudian pihak Prancis berhasil menyamakan kedudukannya dengan skor nilai 1-1 sama. Namun sempat terjadi sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh Jerman terhadap Dominique Rocheteau. Kemudiann lanjut pada babak kedua, Michel Hidalgo dari Prancis memberikan sebuah keputusan mengejutkan dimana meminta Patrick Battiston masuk lapangan dan mengeluarkan Bernard Genghini. Dengan begitu tim mereka mempunyai tiga bek di lapangan dengan menjadikan Manuel Amoros dan Maxime Bossis sebagai wing-back. Tujuannya adalah agar posisi pertahanan lebih kuat ketika menahan serangan bagian sayap dari pasukan Jerman.

Battiston mulai bermain di menit ke-50 dan berusaha menggapai pola yang diumpan oleh Platini. Ketika sedang berlari cepat dan menggiring bola, berharap agar memasukkannya ke gawang lawan, tetapi tiba-tiba mendapatkan serangan dadakan dari salah seorang pemain Jerman. Toni Schumacher datang ke arah Battiston dari depan dengan kecepatan tinggi dan menghantamkan tubuhnya dengan keras. Seketika pemain yang baru saja masuk ke stadion tersebut terlempar dan meringkuk kesakitan. Bahkan selama beberapa detik mengalami kolaps karena seperti mendapatkan kecelakaan tak terduga. Meski begitu, ternyata Battiston sempat mengetahui jika dirinya bakal ditabrak dengan sengaja sehingga berusaha mengurangi kecepatan berlari. Akan tetapi Schumacher malah menambah kecepatan dan menubruk pemain dengan tinggi badan 181 cm tersebut. Alhasil Battiston mengalami cidera sangat parah, tiga gigi patah, tulang rusuk remuk redam, dan bagian belakang juga rusak. Saking tragisnya kecelakaan disengaja tersebut, ia harus mengalami koma selama beberapa waktu di rumah sakit.

Menimbulkan Dampak yang Besar

Kejadian Schumacher menabrak Battiston sontak membuat keadaan lapangan menjadi hening. Para penonton, terutama penggemar tim Prancis langsung mengutuk tindakan tersebut, terutama karena wasit hanya diam saja dan terlambat meniupkan peluit tanda peringatan. Ketika dikecam banyak pihak, dirinya hanya mengatakan jika wasit Corver sama sekali tidak melihat insiden tabrakan namun fokus pada arah perginya bola ke luar lapangan. Hal ini ditambah dengan pernyataan sang asisten yang mengatakan kalai kejadian tersebut tidak disengaja sehingga wasit tidak mampu berbuat banyak.

Setelah Battiston ditandu dan dilarikan ke rumah sakit, turnamen tetap berlanjut dengan menggantinya dengan Christian Lopez. Di babak terakhir, Prancis mencetak dua goal namun sayangnya langsung dibalas oleh Jerman sehingga total akhirnya menjadi 3-3 sama. Sementara Toni Schumacher menjadi sang pahlawan negeri Hitler, bagi Prancis dirinya tak jauh dari monster pembunuh. Jerman berhasil memenangkan pertandingan dan pemainnya Schumacher sama sekali tak menunjukan penyesalan. Bahkan ia begitu sombong mengangkat tangan sebagai rasa bangga akan kemenangan kotor yang didapatkan atas cidera Battiston. Di balik lapangan, kedua negara saling bersitegang dimana pihak Prancis menyalahkan sikap Jerman yang berlebihan serta menjuluki mereka dengan sebutan SS atau Schutzstaffel (pasukan perang Hitler di Perang Dunia II). Tentu saja kejadian tersebut membawa dampak kuat bagi hubungan keduanya sehingga Presidennya Francois Mitterrand dan Kanselir Jerman, Helmut Schimdt membuat pernyataan kepada Prancis.

Nasib akhirnya adalah Battiston baru pulih setelah enam bulan menjalani perawatan namun belum sepenuhnya normal. Sementara itu Schumacher seperti mendapatkan karma dari perbuatan kotornya tersebut dimana dikucilkan para anggota sampai dikeluarkan dari timnas Jerman. Salah satu masalah yang dibuat yaitu menuduh anggota tim menggunapan doping dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Tahun 1987 sampai 1966, yang awalnya seorang pahlawan lapangan hijau bagi Jerman kini menjadi pengelana dengan bermain dari satu klub kecil ke lainnya.

kejadian Paling Brutal di Ajang Piala Dunia Paling Menakutkan dan Tak Terlupakan

Kejadian Paling Brutal di Ajang Piala Dunia Paling Menakutkan dan Tak Terlupakan

Tidak selamanya berita mengenai Piala Dunia mengulas kisah kemenangan dan aksi kepahlawanan dari para tim negara tertentu saja. Akan tetapi ada begitu banyak kisah bahkan rahasia tersembunyi yang belum diketahui oleh masyarakat luas. Semuanyadisimpan rapat oleh beberapa pihak terkait kareena mungkin dianggap membayakan serta dapat merusak citra turnamen bergengsi internasional tersebut. Namun beberapa diantaranya sudah diketahui publik dan menjadi sejarah panjang yang tidak akan pernah terlupakan. Adapun salah satunya mengenai kejadian tragis nan brutal di tengah lapangan hijau ketika dua tim nasional saling beradu kaki memperebutkan kemenangan dalam sepak bola dunia. Supaya mendapatkan nilai lebih unggul, tidak jarang para pemainnya melakukan tindakan kotor sampai kriminal sekalipun, misalnya saja menendang, menjotos, menanduk, bahkan sampai menabrakkan dirinya ke badan lawan. Nah, supaya lebih jelas lagi maka simak ulasan mengenai contoh insiden brutal dalam Piala Dunia di bawah ini!

Cekoslovakia vs Brazil, Piala Dunia 1938

Pada saat Piala Dunia 1938 silam, Brazil yang dianggap sebagai timnas terbaik dan kuat melawan Cekoslovakia di Kota Bordeaux, Prancis. Akan tetapi pertandingan yang seharusnya berjalan mulus dan menarik harus dikotori dengan perang kedua negara bersangkutan. Terjadi perselisihan diantara pemain Brazil dan Cekoslovakia sehingga kejadian tersebut sering disebut sebagai World Cup War Piala Dunia tahun 1938. Ketika permainan sudah berlamu sekitar seperempat jam di babak pertama, pemain bernama Zeze Procopio dengan sengaja penendang Oldrich Nejedly tanpa rasa bersalah sama sekali. Hal ini dimaksudkan untuk merebut bola yang tadinya sedang dikuasai oleh lawannya tersebut. Tentu saja tindakan Zeze langsung mendapatkan kartu peringatan wasit dan menyuruhnya keluar dari lapangan. Belum berakhir disitu saja karena insiden kesengajaan malah menjadi awal baru perkelahian di antara kedua belah tim nasional tersebut. Di 30 menit kemudian, seorang pemain asal Brazil yaitu Arthur Machado berkelahi dengan Jan Riha dari Cekoslovakia dengan sengit. Saking serunya maka turun sang pengadil pertandingan bernama Paul Van Hertzka dan memutuskan kedua pemain harus hengkang dari stadion.

Sebelumnya Leonidas dari Brazil malah berhasil mencetak skor melalui tendangan kaki kiri dan memberikan goal ke gawang frantisek Planicka. Diawali tendangan sengaja ditambah dengan rasa iri akan perebutan skor goal maka kedua tim terus bertengkar satu sama lain. Selama pertandingan berlangsung, keduanya bermain kasar dan brutal sampai menciderai beberapa pemain. Bahkan Hertzka sendiri mengaku kesulitan melerai perkelahian dan mengkondisikan kembali lapangan agar tenang seperti semula. Setelah melalui waktu panjang, akhirnya pihak Cekoslovakia mencetak sebuah goal dan mampu menyamakan angka. Hal ini dikarenakan tendangan penalti Nejedly masuk ke gawang Brazil. Sayangnya, sang pahlawan malah diserang dan terpaksa dipapah menuju ke luar lapangan karena cidera serius pada bagian kaki. Tak hanya dirinya, teman satu tim juga harus mengalami kejadian buruk beberapa saat kemudian yaitu Josef Krostalek mengalami cidera pada bagian perut. Sementara itu Frantisek Planicka juga harus merasakan kebrutalan turnamen karena cidera yang membuat tangan kanannya patah. Karena begitu banyak pemain yang terhenti maka dengan terpaksa Planicka dipanggil kembali dengan keadaan tangan yang masih sakit. Beberapa pemain Brazil seperti Peracio dan Leonidas juga merasakan cidera tetapi memaksakan diri terus melanjutkan pertandingan sampai berakhir.

Belanda vs Portugal, Piala Dunia 2006

Selanjutnya ada pertandingan brutal yang dialami oleh negara Belanda dan Portugal pada Piala Dunia tahun 2006. Tepatnya pada saat memasuki babak 16 besar, beberapa pemain kedua negara saling beradu di tengah lapangan hijau. Kota Nuremberg, tanggal 25 Juni 2016 menjadi tempat paling bersejarah dimana terjadi insiden paling menegangkan mengenai pertandingan sepak bola di Frankenstadion. Hal ini dikarenakan keluarnya 16 kartu kuning ditambah empat kartu merah selama permainan berlangsung. Karena jumlahnya tak wajar dan terlampau banyak, laga tersebut mencatat rekor sekaligus sejarah perolehan pelanggaran paling tinggi selama Piala Dunia berlangsung. Berakhir dengan skor tipis dimana Portugal menang 1-0 atas Belanda karena goal satu-satunya di menit ke-23. Namun suasana tegang sudah tercipta jauh sebelum goal dari Portugal itu sendiri. Mark Van Bommel dan Khalid Boulahrouz mendapatkan kartu kuning akibat pelanggaran yang dilakukan, tepatnya pada sepuluh menit pertama. Bahkan Boulahrouz sempat menghadiahi sang pemain legendaris Cristiano Ronaldo sebuah tekel keras sehingga membuatnya terkapar di tengah lapangan. Sebagai akibatnya, Ronaldo tak sanggup lagi meneruskan pertandingan sampai akhir dan harus segera dibawa menuju luar lapangan. Keluarnya satu pemain andalan Portugal membuat tim Belanda aman namun juga memperpanas suasana pertandingan. Setelah insiden kartu kuning oleh Boulahrouz, terjadi lagi perkelahian sehingga wasit Marco Rodriguez harus turun langsung menangani hal tersebut. Setelah sedikit mereda, perkelahian kembali terjadi melibatkan John Heitinga yang mendapatkan kartu kuning karena menyerang salah satu pemain Belanda. Hal ini dipicu karena pihak negara tersebut tidak mau menghentikan laga padahal sudah ada satu pemain Protugas yakni Ronaldo yang tengah cidera karenanya. Kemudian terjadi lagi pelanggaran dilakukan oleh Wesley Snejider karena mendorong Petit.

Hungaria vs Brazil, Piala Dunia 1954

Brazil kembali berbuat ulah dalam pertandingan Piala Dunia tahun 1954. Bahkan tim nasional mereka dicap sebagai pemain terkotor urutan ketiga setelah Jerman dan Argentina. Jadi jika kali itu terjadi kerusuhan di lapangan maupun beberapa pelanggaran, bukanlah suatu hal mengejutkan lagi. Seperti pada tahun 1954 dimana pemain Brazil, Nilton Santos menendang kaki Josef Bozsik. Tak terima begitu saja kemudian Bozsik membalas dengan memberikan tinjuan keras ke wajah Nilton sampai terluka. Wasit pertandingan tidak dapat mengeluarkan kedua pemain yang nantinya disinyalir akan memicu kerusuhan karena peraturan kartu merah belum diberlakukan. Sesuai perkiraan jika perselisihan terus berlanjut dimana Didi, salah satu pemain cadangan Brazil berani melemparkan papan iklan karena marah. Insiden lainnya lagi terjadi dimana Djalma Santos mengejar Zoltan Czibor asal Hungaria agar bisa diserang. Beberapa saat kemudian, pemain Hungaria bernama Kocsis berhasil mencetak goal baru sehingga melengkapi total skor mereka menjadi 4-2. Namun Brazil masih tidak terima dan secara tiba-tiba Humberto berlari ke arah Gyula Lorant, kemudian menghantamnya sampai terkapar.

Pertandingan Piala Dunia jaman dahulu memang sangat brutal bahkan kriminal. Banyak pemain hebat mengalami cidera serius sampai patah tulang, kehilangan gigi, kerusakan organ dalam bahkan koma sekalipun. Karena itulah pihak Komite FIFA membenahi dan membuat beberapa kebijakan serta aturan baru yangwajib ditaati oleh para pesertanya saat bertanding dalam satu lapangan. Bahkan di Piala Dunia Rusia 2018 ini tidak diperbolehkan satupun timnas yang melakukan tindak kecurangan jika tak ingin mendapatkan sanksi keras dari FIFA. Namun begitu masih terjadi pula pelanggaran kecil seperti menendang, men-tackle, menyundul, dan lain sebagainya ke arah lawan.

 

Dibalik Sangarnya Jerman, Inilah Empat Kisah Paling Menarik Sepanjang Piala Dunia

Dibalik Sangarnya Jerman, Inilah Empat Kisah Paling Menarik Sepanjang Piala Dunia

Tim nasional Jerman adalah salah satu momok menakutkan bagi para lawannya saat berlaga satu lapangan di turnamen Piala Dunia. Nyaris saja di setiap pertandingan, entah itu standar internasional atau liga Eropa saja, Jerman selalu masuk dalam deretan calon juara. Bahkan karena itulah mengapa die mannschaft selalu dijuluki sebagai tim spesialis turnamen karena mempunyai peluang besar untuk merebut kemenangan sepak bola. Rasanya sungguh tak mungkin jika Jerman akan kalah dari timnas lainnya. Tidak heran jika seluruh masyarakat dunia, terutama para supporternya begitu terheran-heran karena negara tersebut kalah telak ketika melawan Korea Selatan di Piala Dunia Rusia 2018 kemarin. Banyak pihak terkejut bahkan beberapa warga sempat merasa tidak terima akan tetapi itulah kenyataan pahit sebenarnya.

Sebelumnya Jerman telah mempunyai deretan catatan prestasi dari pertandingan sebelumnya, salah satunya delapan kali berada di babak final Piala Dunia. Adapun empat diantaranya berhasil menyabet gelar sebagai juara dunia. Selain itu jug tim mereka selama tiga kali berurutan menjuarai liga Eropa dan dua kali sebagai runner-up atau juara kedua. Hal tersebut lebih dari cukup untuk membuktikkan kalau Jerman memang layak menyandang popularitas serta sebutan sebagai tim paling berpengaruh dalam sepak bola. Di balik semua keberhasilan tersebut, tentu ada banyak sekali kisah menarik mulai dari yang sifatnya menyenangkan, menyedihkan, tragis, penuh perjuangan dan kontroversial. Berikut ini adalah sepenggal dari kisah paling unik dan berbeda dari timnas Jerman selama perjalanan menjadi peserta ajang Piala Dunia.

1. Support dari sang pelatih dan tindakan aneh Christoph Kramer

Percaya atau tidak ternyata sebuah kalimat memang punya kekuatan tersendiri, terlebih lagi jika diucapkan dengan penuh kesungguhan serta harapan. Ini juga terjadi pada timnas Jerman ketika menghadapi pertandingan Piala Dunia 2014 silam dimana melawan musuh bebuyutan Italia. Sang pelatih yaitu Joachim Low mempunyai kebiasaan atau tradisi wajib yang dilakukan terhadap semua pemainnya sebelum permainan dimulai datau kapan saja selagi bisa. Pada saat itu, pelatih Low membisikkan kalimat support atau motiviasi kepada salah seorang pemain andalan, Mario Götze. Kalimat tersebut memintanya untuk terus semangat agar Götze mampu menunjukkan pada dunia jika dirinya jauh lebih hebat dibandingkan dengan Messi. Beberapa saat sesudahnya, Götze berhasil menciptakan tendangan maut ke gawang lawan dan memberikan skor tambahan kepada Jerman, terpatnya pada menit ke-113. Sementara itu terjadi pula kejadian tak kalah menarik dimana Christoph Kramer saling berbenturan keras dengan Ezequiel Garay. Sayangnya insiden menariknya bukan karena cidera ataupun luka melainkan tingkah linglung dari Kramer yang tiba-tiba mendatangi wasit dan bertanya, “apa ini benar di babak final?”. Sontak saja semua pemain dan wasit kebingungan sekaligus ingin menertawai sikap aneh tersebut. Akan tetapi 14 menit kemudian, pelatih malah mengeluarkannya dari lapangan untuk berhenti bermain.

2. Pertandingan paling kasar melawan Argentina

Pada saat turnamen Piala Dunia 1990, Jerman tengah dihadapkan dengan salah satu timnas paling fenomenal yaitu Argentina. Keduanya melaju ke babak final tetapi disitu tim dari Argentina bermain terlalu kasar bahkan menjurus ke tindakan pelanggaran brutal. Sepanjang permainan berlangsung, para pemain Jerman memang berhasil mendominasi dan menguasai lapangan tetapi belum juga mendapatkan kesempatan mencetak satupun goal. Tepatnya pada menit ke-85, Rudi Völler malah mendapatkan serangan dan dijatuhkan oleh salah satu pemain Argentina di kotak penalti. Sementara itu wasit langsung datang dan memberikan pelanggaran sekaligus hadiah tendangan penalti pada Jerman. Tidak terima, tim Argentina lalu memprotes tindakan wasit tetapi tak mengubah keadaan sama sekali. Meskipun keadaan makin panas tetapi Andreas Brehme tetap berusaha mencetak goal dan melakukan eksekusi ke gawang lawan.

3. Misteri mengenai pool party, diving dari Hölzenbein, dan mind trick Beckenbauer

Nampaknya bagi Jerman, Piala Dunia 1974 menjadi momen paling tidak terlupakan karena sempat terjadi berbagai macam kejadian mengejutkan. Kabarnya ada empat pemain Belanda dan dua orang wanita asal Jerman sedang terlibat pool party di Hotel Wald. Kejadian tersebut katanya dilakukan selang beberapa hari sebelum pertandingan Brazil dimulai. Yang membuat publik geram sekaligus kecewa yaitu karena pesta tersebut mengusung tema tak lazim yaitu naked party atau dalam keadaan telanjang bulat di kolam renang. Hal tersebut kemudian memicu masalah di timnas Belanda menjelang pertandingan final. Tak berhenti sampai disitu saja melainkan beberapa dampak buruk terjadi pula di luar lapangan, tepatnya saat Beckenbauber melakukan mind trick. Wasit Piala Dunia, Jack Taylor berhasil dipengaruhi dan akhirnya memberikan hadiah penalti kepada Belanda setelah Uli Hoeness melakukan pelanggaran terhadap Cruyff. Mengetahui hal tersebut, Beckenbauer tak tinggal diam dan menyindir jika wasit terlalu membela Belanda dan berlaku kurang fair. Setelah itu, beberapa menit kemudian giliran tim Jerman melakukan pembalasan dendam dimana wasit memberikan penalti kepada mereka atas pelanggaran dari Wim Jansen atas Hölzenbein . Padahal sempat ada kabar apabila Hölzenbein tengah melakukan diving di tengah lapangan agar terlihat menderita dan mendapatkan keuntungan tersebut.

4. Keajaiban hujan di musim panas bagi Jerman

Satu lagi kejadian paling kontroversial yang dilakukan Jerman selama Piala Dunia yaitu dugaan penggunaan doping. Pada saat babak final di Piala Dunia 1945, Jerman berhasil mengalahkan tim paling populer dan kuat, Hungaria. Sejarah kemenangan dan prestasinya tak bisa dikalahkan oleh timnas negara manapun, bahkan selama 36 kali tidak pernah ada yang berhasil mengalahkannya. Jerman Barat bertemu dengan Hungaria dan langsung membuat penonton terpana karena perolehan skor 8-3. Awalnya memang Hungaria berhasil membabat habis jumlah goal terhadap Jerman tetapi kemudian keadaan berubah drastis dimana Jerman Barat unggul atas sang legenda pada tanggal 4 Juli 1954.

Tak hanya kemenangan Jerman yang menjadi hal menarik tetapi juga hal di sekitar lapangan. Pada waktu itu sedang musim panas tetapi malah turun hujan yang kemudian dianggap sebagai keajaiban dan berkat Tuhan kepada timnas Jerman Barat. Bahkan ada mitos menyebutkan jika Fritz Walter, salah satu pemain andalan mereka akan berlaga sangat bagus ketika hujan turun dan hal tersebut memang terbukti benar.

5. Adanya dugaan penggunaan doping saat bertanding

Masih mengenai Piala Dunia tahun 1954 dimana Jerman menang atas Hungaria yang belum dapat diterima oleh masyarakat, khususnya para pendukungnya. Pasalnya, Hungaria belum pernah sama sekali dikalahkan oleh lawan sepanjang sejarah Piala Dunia tetapi fakta membuktikan lain. Terlebih lagi, Jerman dikenal sebagai tim paling kotor dimana melakukan berbagai trik untuk menang, entah berlaku curang, menggunakan diving, dan sebagainya. Bahkan saking tidak percaya, beberapa pihak sempat mengklaim apabila pemain Jerman menggunakan doping selama pertandingan berlangsung untuk meningkatkan stamina dan kekuatan. Isu tersebut semakin kuat ketika ada dua pemain yang jatuh sakit selama dua bulan setelah final. Kemungkinan besar mereka memang terkena over dosis penggunaan doping terlalu berlebihan saat berlaga mewalan Hungaria. Akan tetapi berita negatif hanya ditanggapi santai oleh tim beserta wasitnya karena walau bagaimanapun tim mereka tetap berada di puncak kemenangan karena berhasil mengalahkan sang legenda.

Kontroversi Handball, Teknologi VAR Bantu Prancis menang? ini kata mantan wasit Inggris.

Timnas Kroasia yang secara mengejutkan tampil di Final piala dunia 2018 ini akhirnya harus mengakui dari tim lawannya, Prancis. Tim kuda hitam ini takluk dengan skor 4-2.

Dalam laga ini, sebuah insiden yang sangat merugikan harus diterima oleh Kroasia. inisiden ini datang dari wasit yang memimpin laga ini, Nestor Pitana yang membuat keputusan Kontroversial. Wasit ini memberikan Kroasia hukuman penalti setelah Perisic terekam kamera menyentuh bola dengan tangannya melalui Teknologi VAR.

ini kali ke enam timnas prancis mendapatkan hadiah pinalty di ajang piala dunia 2018 ini. Griezmann si striker prancis mampu menjalankan tugas nya sebagai algojo eksekutor pinalty. Prancis unggul 2-1. Keputusan itu juga membuat dampak negatif terhadap psikis pemain Kroasia hingga akhirnya kembali kebobolan sebanyak dua kali oleh Paul Pogba dan Kylian Mbappe.

Insiden ini membuat mantan wasit Liga Inggris, Dermot Gallagher, memberikan pandangan dan komentarnya. Menurut Gallagher, aksi Perisic tersebut bukanlah sebuah handball. Gallagher menilai Perisic menyentuh bola tanpa adanya unsur kesengajaan.

“menurutku itu 100% bukanlah sebuah penalti. Dia tidak sengaja, pandangannya tertutup dengan pemain yang ada di depannya,” ucap Gallagher,

“Itu hanya mengenainya, dia tidak sengaja menggerakkan tangannya ke bola, dia tidak mempunyai niat menepis bola. Aturan mengatakan (handball) itu harus disengaja. Lengannya tidak berada dalam posisi tidak lazim. Itu sungguh masuk akal,” imbuhnya.

Sering Dinilai Kuat, Ternyata Jerman Merupakan Tim Paling Kotor di Piala Dunia

Sering Dinilai Kuat, Ternyata Jerman Merupakan Tim Paling Kotor di Piala Dunia

Siapa bilang jika turnamen Piala Dunia hanya menonjolkan sisi terbaiknya saja? Bahkan semenjak pertama kali digelar pada tahun 1930 silam, pertandingan sepak bola skala dunia tersebut sudah dikotori dengan berbagai macam kejadian. Mulai dari perkelahian antar tim nasonal, skandal suap, kasus korupsi, pembunuhan pemain di tahun 1994, dan lain sebagainya. Sudah bukan hal awam dan mengejutkan lagi jika selama permainan berlangsung di tengah lapangan, ada beberapa pemain melakukan tindakan curang supaya bisa menang dan mencuri goal ke gawang lawannya. Adapun salah satu tim yang dianggap kotor yaitu Jerman dimana predikat tersebut sudah disandang sejak puluhan tahun lalu.

Alasan Jerman Dikatakan Sebagai Tim Curang

Tidak bisa dipungkiri jika Jerman adalah salah satu tim nasional andalan masyarakat dunia. Anggotanya nyaris dipenuhi oleh para pemain sepak bola terbaik dan potensial sehingga memperkuat setiap posisi. Jika kita lihat latar belakang prestasi negara tersebut, Jerman sudah empat kali mendapatkan gelar juara Piala Dunia. Akan tetapi setelah ditinjau ulang, ternyata ada banyak sekali kejadian ganjil di baliknya dimana tim mereka melakukan kecurangan selama pertandingan berlangsung. Bahkan kenyataan tersebut sudah dibenarkan oleh beberapa pihak. Salah satunya seperti yang dikabarkan oleh media Mirror, mengatakan apabila ada 122 total kartu kuning yang didapatkan oleh Jerman selama 88 tahun periode Piala Dunia. tentu saja perolehan tersebut sangat besar bila dibandingkan negara peserta lain sehingga membuat negara tersebut menyandang predikat sebagai tim paling kotor di arena sepak bola dunia.

Penyebutan tim kotor bukan dilakukan secara sembarangan melainkan melalui analisis panjang. Lebih tepatnya lagi menggunakan sistem perhitungan skor berdasarkan jumlah kartu kuning maupun merah yang telah diterima setiap timnas dari suatu negara tertentu. Untuk satu kartu kuning mempunyai bobot 5 point kemudian jika ada dua maka nilainya 7 poin, sedangkan satu kartu merah terkena 10 poin sekaligus. Sementara itu Jerman mendapatkan total poin paling banyak dikarenakan adanya penggabungan antara Jerman Barat dan Timur. Saat wilayah Jerman Barat menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 1974, Jerman Timur ternyata ikut tampil. Jadi ada dua tim nasional dari Jerman yang mengikuti pertandingan dalam satu lapangan hijau. Tidaklah heran jika keduanya sama-sama mendapatkan pelanggaran maka jumlah perolehan poin semakin bertambah besar.

Contoh Pelanggaran Sadis dari Timnas Jerman

Begitu banyak pemain dari Jerman melakukan pelanggaran baik kartu kuning atau bahkan merah. Namun ada satu sejarah pemain mengerikan timnas negeri Hitler tersebut yaitu Toni Schumacher. Pada saat Piala Dunia tahun 1982 dilangsungkan, Schumacher melakukan suatu hal tak terduga terkait insiden kecelakaan lapangan bersama Battiston, pemain asal Prancis. Pada saat itu dirinya tengah berlari kencang menggiring bola untuk menyamakan kedudukan dengan Jerman tetapi dihantam dengan keras oleh Schumacher secara tiba-tiba. Sebelum terjatuh, Battiston sempat sadar jika akan diciderai dengan sengaja dan kemudian memperlambat gerakan dan berusaha menghindar. Akan tetapi Schumacher semakin kencang dan menabrakkan diri ke pemain malang tersebut sampai terkapar dan mengalami cidera parah. Tiga buah gigi pemain Prancis patah, tulang belakang rusak, dan beberapa rusuk remuk karena mengalami insiden maut tersebut. Meskipun hanya bertabrakan dengan pemain lain tetapi akibat yang didapatkan sangatlah parah seperti baru saja tertabrak mobil di jalan raya. Malangnya lagi, ia koma di rumah sakit dalam waktu panjang.

Kejadian tersebut langsung membuat semua mata penonton dan berbagai pihak terbelalak sekaan tak percaya. Sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut semua orang, baik ditujukan pada Schumacher bahkan wasit lapangan sekalipun. Kabarnya sang wasit terlalu teledor dan terlambat meniupkan peluit sehingga monster Jerman itu tak berhenti melaju ke arah Battiston. Kemudian ia memberikan tanggapan jika hanya fokus pada bola yang ditendang ke luar lapangan, ditambah lagi asisten wasit mengatakan jika kejadian tersebut tidak sengaja. Sementara itu Schumache seakan tak mau disalahkan dan tetap berdirisambil berkacak pinggang menanti pertandingan segera dilanjutkan. Namun dirinya harus rela digantikan oleh pemain Jerman lain yaitu Christian Lopez karena takut insiden sama akan terjadi. Terlebih lagi pihak Prancis memprotes keras dan meminta pertanggungjawaban dari Jerman.

Tim Kotor Piala Dunia yang Lain

Ternyata Jerman tidak menjadi satu-satunya tim kotor selama Piala Dunia berlangsung. Masih ada beberapa negara lain, seperti Argentinya yang menempati urutan kedua setelahnya. Argentina mendapatkan julukan sebagai “binatang” oleh pelatih negara Inggris, Alf Ramsey karena bermain begitu curang dan buruk. Sementara perolehan poin pelanggaran tak sebanyak Jerman yaitu terdapat 630 poin saja.

Setelah itu ada Brazil mendapatkan panggilan sebagai tim terkotor nomor tiga di dunia dengan 100 poin. Meskipun begitu dijagokan dan dianggap sebagai timnas terkuat ternyata Brazil tidak sesempurna itu. Ada banyak sekali pelanggaran dilakukan, misalnya saja selama Piala Dunia 2018 dimana Neymar Jr sebagai pemain yang tak memedulikan peraturan. Bahkan baru-baru ini pada tanggal 2 Juli kemarin, ia sempat melakukan drama baru yaitu terkapar sambil berguling di tengah lapangan. Tepatnya ketika salah seorang pemain Meksiko Miguel Layun tak senngaja menginjang pergelangan kaki kanannya. Sebelum kejadian tersebut, Neymar juga sempat melakukan drama yang sama entah memang sungguhan ataukah hanya mencari perhatian. Kemudian setelah Brazil, masih ada beberapa negara dengan permainan kotor lain, berikut ini daftar lengkapnya.

• Italia = total 98 kartu, 7 merah, 90 kuning, 1 kuning ganda
• Belanda = total 97 kartu, 3 merah, 90 kuning, 4 kuning ganda
• Meksiko = total 74 kartu, 4 merah, 68 kuning, 2 kuning ganda
• Uruguay = total 69 kartu, 8 merah, 60 kuning, 1 kuning ganda
• Spanyol = total 65 kartu, 1 merah, 64 kuning, 0 kuning ganda
• Korea Selatan = total 63 kartu, 2 merah, 61 kuning, 0 kuning ganda
• Perancis = total 62 kartu, 5 merah, 56 kuning, 1 kuning ganda
• Inggris = total 54 kartu, 3 merah, 51 kuning, 0 kuning ganda
• Kamerun = total 54 kartu, 7 merah, 46 kuning, 1 kuning ganda

Meskipun mendapatkan sebutan “tim paling kotor” namun tak begitu mudah menghapuskan popularitas Jerman di mata dunia. Ada banyak penggemar dan masyarakat berbagai negara mengunggulkan negara tersebut. Terlebih lagi sudah empat kali tim mereka berhasil memenangkan Piala Dunia dan merebut gelar sebagai Juara Dunia. Tidaklah heran jika setiap peserta turnamen begitu berambisi menghadapi dan mengalahkan mereka. Namun pada pertandingan melawan Korea Selatan kemarin, ternyata Jerman mencetak sejarah baru dimana berhasil kalah telak dengan tim nasional negara Gingseng tersebut. Nampaknya kutukan mengenai juara bertahan tak bisa lanjut ke babak final benar-benar terjadi dan dialami oleh Jerman pada Piaal Dunia 2018.

FIFA Beberkan Proses Pemilihan Negara Tuan Rumah Piala Dunia 2026

FIFA Beberkan Proses Pemilihan Negara Tuan Rumah Piala Dunia 2026

Posisi tuan rumah dalam ajang Piala Dunia selalu menjadi hal kontroversial sepanjang sejarah. Hal ini dikarenakan adanya keuntungan yang akan didapatkan tiap negara tersebut. Kecuali pad atahun 1930, dimana pertama kali World Cup diadakan di Uruguay dan dihadiri hanya 13 negara anggota FIFA saja. Pemilihan Uruguay sendiri berdasarkan keputusan FIFA secara langsung dikarenakan negara tersebut sudah menjadi juara dunia dua kali dan bertepatan dengan seratus tahun kemerdekaan. Untuk periode berikutnya, diadakan bidding atau proses pengambilan suara terhadap beberapa kandidat tuan rumah Piala Dunia yang diselenggarakan tiap empat tahun sekali. Salah satu hal unik yaitu pemilihan harus sudah selesai paling lambat 3 tahun sebelum dimulainya acara agar tuan rumah mampu mempersiapkan segala keperluannya. Misalnya saja seperti Rusia di Piala Dunia 2018, sudah terpilih sejak sembilan tahun lalu dan langsung melakukan pembangunan negara sebagai syarat FIFA. Pasalnya, pihak tersebut meminta kebijakan dan syarat tertentu bagi negara tuan rumah. Salah satunya adalah menyediakan minimal 20 stadion standar internasional dan tiap kota menjadi tempat penyelenggaraan harus dilengkapi dengan fasilitas umum dan sarana transportasi memadai.

Syarat Tuan Rumah Piala Dunia 2026

Jarang sekali media mengungkapkan soal syarat lengkap menjadi tuan rumah ajang bergengsi Piala Dunia. Kemungkinan alasannya dikarenakan pihak FIFA merahasiakan dari publik dan menjadi peraturan tersendiri. Akan tetapi beberapa waktu sebelumnya, anggota Komit Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA mengatakan mengenai syarat menjadi kandidat tuan rumah untuk Piala Dunia periode tahun 2026 mendatang. Meskipun masih beberapa tahun lagi tetapi segara sesuatunya sudah dipersiapkan mulai dari sekarang bahkan penentuan tempat penyelenggaraannya sekalipun.

FIFA membocorkan proses penentuan bersama dengan Presiden Giannu Infantino yaitu pada bulan Oktober. Sementara untuk keputusan final atau akhir diberikan selambat-lambatnya pada bulan Mei 2020. Terdapat banyak perimbangan untuk memperbolehkan suatu negara menjadi kandidat tuan rumah. Oleh sebab itu dilakukan berbagai macam hal seperti menetapkan persyaratan sampai tinjauan ke negara itu sendiri. Tidaklah mungkin FIFA memilih tuan rumah secara sembarangan sehingga di kemudian hari malah akan menimbulkan masalah. Paling tidak negara tersebut memang harus antusias terhadap pertandingan olahraga sepak bola dan telah memiliki pengalaman menjadi pemenang ataupun meraih prestasi besar lainnya. Bisa diambil salah satu contoh negara Rusia di Piala Dunia 2018 dimana dianggap sebagai tuan rumah paling lemah. Alasannya karena negara tersebut belum pernah sama sekali memenangkan turnamen besar dan selalu kalah di babak awal ketika mengikuti turnamen Piala Dunia. Ditambah lagi sebagian besar pemain dalam tim belum terlalu mahir dan potensial menambah keraguan bagi masyarakat dunia.

Beberapa Contoh Syarat Menjadi Tuan Rumah

Para anggota komite dalam FIFA mempunyai kebijakan tersendiri dalam proses pemilihan tuan rumah. Ada banyak sekali syarat yang harus dipenuhi oleh para kandidat jika ingin melaju sampai tahapan bidding atau pemilihan suara. Adapun beberapa diantaranya terkait masalah pembangunan dan tingkat kesejahteraan negara, hak asasi manusia, perlindungan lingkungan, pengelolaan berkelanjutan bahkan riwayat tindakan kriminal dan sebagainya. Bagi para pendaftar yang belum memenuhi kriteria tersebut tidak akan didiskualifikasi tetapi dikecualikan terlebih dahulu. Contoh dari syarat yang diajukan oleh FIFA diantaranya sebagai berikut.

  1. Menunggu Selama 12 Tahun
    Bagi negara yang sebelumnya sudah pernah menjadi tuan rumah pada Piala Dunia periode tertentu maka harus menanti selama 12 tahun agar bisa mencalonkan diri kembali. Misalkan seperti Rusia berhasil menyelenggarakan Piala Dunia 2018 di rumahnya maka negara tersebut baru bisa menjadi kandidat kedua kali sekitar tahun 2030 mendatang. Keputusan ini sudah dikeluarkan oleh Dewan FIFA dan berlaku beberapa tahun lalu.
  2. Menerapkan Penyelidikan Kriminal
    Pihak FIFA tak ingin terjadi masalah di kemudian hari jika negara tuan rumah mengalami sedang dalam kondisi tak memungkinkan. Sebagai contohnya seperti terkena skandal korupsi, suap, perselisihan dengan negara lain atau sebagainya. Oleh sebab itulah dilakukan penyelidikan kriminal dan invesitgasi menyeluruh terlebih dahulu untuk memastikan keadaan pemerintahan negara bersangkutan. Sementara penawaran sebagai kandidat tuan rumah 2026 akan dievaluasi pada Januari 2019 sampai Februari 2020.
  3. Mempunyai 20 Stadion Internasional
    Karena Piala Dunia ajang bergengsi maka tidak mungkin jika diselenggarakan di tempat seadanya saja. Sudah pasti jika berbagai macam fasilitas para peserta maupun umum disediakan sebaik mungkin oleh negara tuan rumah. Salah satunya seperti membangun setidaknya 20 stadion berskala internasional dengan fasilitas memadai di dalamnya. Belajar dari Afrika Selatan dimana telah menghabiskan empat kali lipat dari anggaran awal karena pihak FIFA dan sponsor Piala Dunia menginginkan pembangunan lebih megah stadion di tiap kota.

Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Sudah Terpilih

Seperti yang kita ketahui jika penetapan tuan rumah sudah dilakukan sejak jauh hari, beberapa tahun sebelum pertandingan resmi dimulai. Tepatnya sebelum Piala Dunia Rusioa 2018 dimulai, FIFA mengadakan sebuah Kongres ke-68 mengenai penentuan tuan rumah tahun 2026. Acara rapat tersebut diadakan di Rusia dengan dihadiri 211 negara anggota FIFA. Adapun kandidat yang punyai kedudukan kuat yaitu gabungan Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada melawan Maroko sebagai tuan rumah tunggal. Padahal beberapa waktu sebelumnya sempat muncul isu jika gabungan negara tersebut akan mengajukan diri sendiri. Akan tetapi pada 10 April 2017 silam, ketiganya tetap sepakat jika menjadi tuan rumah gabungan dengan julukan “The Utited 2026”.

Banyak pihak mengatakan bila Maroko bagaikan semut melawan tiga gajah besar bergading sehingga tak memungkinkan menang dalam bidding. Akan tetapi negara tersebut tak mempermasalahkannya sama sekali dan tetap melaju ke pemilihan tersebut secara bersih. Pasalnya Piala Dunia periode 2010 juga mengalami kejadian sama dimana berakhir dengan kemenangan Afrika Selatan sebagai tuan rumah. Maroko juga pernah beberapa kali mengajukan diri, diantaranya seperti pada tahun 1994, 1998, 2006, 2010 dan terakhir untuk 2026. Terdapat fakta lain mengenai proses pemilihan tuan rumah tersebut seperti lemahnya Maroko sebagai rival The United 2016, pihak AS dan Meksiko lebih unggul pengalaman, dan lain sebagainya.

Itulah informasi mengenai proses dan syarat pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2026. Dua negara antara gabungan Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko akan menjadi pesaing kuat Maroko. Terlebih lagi sudah empat kali sebelumnya Maroko pernah mendaftarkan diri namun belum berhasil mendapatkan kesempatan emas tersebut. Sedangkan dari pihak The United 2026 sendiri beberapa negara diantaranya pernah menggelar Piala Dunia, khususnya Amerika dan Meksiko. Namun begitu Maroko mempunyai banyak prestasi di bidang turnamen sepak bola dunia, misalnya seperti tuan rumah Piala Dunia Antarklub 2012 dan Piala Afrika 2015 silam. Siapapun yang jadi pemenang dalam pemungutan suara, tentu negara tersebut memang dipandang pantas karena prestasi serta keunggulannya masing-masing.

Yuk Lihat Profil Lengkap 8 Negara yang Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2018!

Yuk Lihat Profil Lengkap 8 Negara yang Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2018!

Sudah sampai pada tahapan paling menggemparkan yaitu perempat dari final Piala Dunia 2018. Sebentar lagi beberapa tim nasional dari negara tertentu bakal melenggang ke semi final dan menentukan siapa yang layak menduduki posisi sebagai juara dunia periode ke -21 ini. Sementara itu saat ini sudah ada delapan negara yang berhasil lolos dan akan saling berhadapan satu sama lain dengan penetapan jadwal sendiri. Dari semua negara tersebut sebagian besar berasal dari Eropa sedangkan sisanya merupakan negara di kawasan benua Amerika. Tentu saja tim paling diunggulkan seperti Brazil seperti mendapatkan tiket paten masuk ke babak tersebut. Kemudian juga ada Uruguay, Inggris, Swedia, Prancis, Belgia, Kroasia, dan pastinya sang tuan rumah Rusia. Kedelapan tim tersebut termasuk beberapa negara paling kuat dengan riwayat permainan sepak bola panjang sehingga tidak heran jika mampu masuk ke perempat fina Piala Dunia 2018.

Prancis adalah tim nasional pertama yang berhasil lolos ke babak selanjutnya karena dengan bangga memenangkan turnamen melawan sang legenda timnas Argentina. Skor yang diperoleh pada saat itu berbeda tipis yakni hanya 4-3 saja. Salah seorang pemain asal Prancis yang jadi bintang lapangan, Kylian Mbappe telah memberikan hadiah goal pada les Bleus. Kemudian disusul kemenangan dari Uruguay setelah bertanding melawan Portugas dan menang 2-1 karena adanya goal dari Edinson Cavani. Rusia pada waktu itu memastikan kelayakannya masuk ke perempat final karena menyingkirkan timnas Spanyol melalui adu penalti. Ternyata tak hanya Rusia yang menang karena penalti tetapi juga Kroasia yang unggul dari Denmark karena sang kipper mampu menahan serangan tiga tendangan. Negara selanjutnya tentu saja Brazil yang menang 2-0 atas Meksiko meskipun sempat terjadi drama menarik antara Neymar dengan Roberto Firmino. Negara ini akan berhadapan dengan Belgia di perempat final nanti. Lalu Tim dari Inggris menjadi yang paling akhir mendapatkan kesempatan lolos setelah menang menghadapi Kolombia di Spartak Arena.

Profil Singkat 8 Negara di Perempat Final Piala Dunia 2018

Sebagian besar orang cukup penasaran mengenai negara-negara yang akhirnya saling bertatap muka di satu babak perempat final. Piala Dunia 2018 cukup berbeda dibandingkan sebelumnya karena ada beberapa timnas secara mengejutkan mampu berhasil ke tahapan perempat final. Berikut ini adalah profil singkat dari delapan negara tersebut!

Prancis
Sebagai tim yang pertama mendapatkan tiket emas menuju perempat final, tentunya Prancis patut berbangga. Saat saingannya tengah berjuang keras, mereka sudah merasa di titik aman terlebih dahulu. Padahal jika dilihat dari riwayat beberapa pertandingan sebelumnya, Prancis hanya berhasil menang tipis dari negara lain. Namun begitu mereka tak perlu membuang banyak tenaga berlebihan ataupun menciptakan drama di lapangan. Bisa dibilang jika para pemainnya bermain secara stabil dan rapi sehingga pada akhirnya layak masuk ke babak perempat final. Disamping itu Les Bleus sendiri menampilkan peforma terbaik ketika melawan Argentinya yang dikenal sebagai tim paling kotr kedua setelah Jerman. Tidak diduga ternyata kehadiran dari Paul Pogba dan N’Golo Kante mampu memperkuat lini tengah dan melengkapi kualitas para pemain Prancis.

Uruguay
Setelah menang dari portugal dengan skor 2-1, Uruguay dapat lolos ke perempat final. Sang bintang lapangan Edinson Cavan berlaga dengan apik karena telah memberikan dua goal ke gawang lawan. Yang mengejutkan lagi adalah gawang Uruguay belum pernah kebobolan sama sekali melalui permainan terbuka. Nampaknya riwayat menang dua kali dalam Piala Dunia mampu membuat tim nasional mereka bermain secara cerdas karena mengerti benar taktik serta aturannya. Sementara itu beberpa pemain asal uruguay menjadi motor antara lain ada Edinson Cavani, Diego Godin, Fernando Muslera, dan Luis Suarez.

Brazil
Siapa sangka setelah terjadinya drama lapangan yang dilakukan oleh Neymar malah menjadi berkah bagi Brazil lolos ke perempat final. Pada tanggal 2 Juli kemarin, Brazil melawan Meksiko menjadi pertandingan penentuan menuju babak tersebut. Dengan perolehan skor 2-0 negara yang dikenal dengan tarian Samba tersebut menang dan membabat habis Meksiko. Apalagi ada pemain handal seperti Neymar sebagai salah satu pemain sepak bola dunia paling ditakuti.

Belgia
Negara berikutnya yaitu Belgia yang nantinya akan bertanding dengan Brazil di babak perempat final Piala Dunia 2018. Sebelumnya tim nasional ini menang melawan Jepang dengan perolehan 3-2. Eden Hazard menjadi pemain terkuat dan menyumbangkan goal ke gawang lawan mainnya tersebut.

Swedia
Bisa dikatakan jika Swedia meupakan salah satu negara dengan sedikit pemain terbaik. Bahkan dari awal Piala Dunia, tim nasional negara ini dianggap kurang kompeten dan diprediksi gagal di awal pertandingan. Akan tetapi Swedia berhasil membuktikan prasangka salah tersebut karena tim mereka melaju ke perempat final. Hal ini dikarenakan adanya posisi pertahanan yang bagus serta serangan cerdas para pemainnya.

Inggris
Sejak awal para pemain dari Inggris nampak optimis bisa memenangkan kejuaraan Piaal Dunia tahun ini. Hal ini dibuktikan karena tim nasional mereka berhasil masuk ke perempat final dan sedikit lagi ke babak paling akhir. Keunggulan Inggris yaitu mempunyai pemain sepak bola profesional berusia muda sehingga dapat menghemat lebih banyak tenaga. Selain itu juga memperkuat lini pertahanan sehingga sulit ditembus oleh lawan. Contohnya seperti keberadaan Harry Kane memegang peranan penting timnas Inggris sekaligus mesin pencetak goal terbanyak.

Rusia
Tuan rumah Piala Dunia 2018 yakni Rusia membuktikan tim nasionalnya mampu meraih kemenangan sampai perempat final. Mereka sebenarnya sudah mendapatkan keuntungan sendiri maju ke babak final karena menduduki posisi sebagai tuan rumah. Meski begitu ketika melawan Spanyol yang merupakan tim favorit dunia, Rusia berhasil mencetak skor lebih unggul.

Kroasia
Siapa sangka apabila Kroasia mampu berdampingan dengan tim negara terkuat seperti Brazil, Swedia, Inggris dan lainnya di Piala Dunia kali ini. Ketika melawan Denmark, negara tersebut dapat terus bertahan dan menang karena adu penalti yang mendebarkan. Terlebih lagi Kroasia dibekali dengan para pemain gelandang berkualitas sehingga peluangnya menjadi lebih besar.

Itulah profil singkat dan padat mengenai delapan tim nasional dari negara yang berhasil ke perempat final. Piala Dunia 2018 akan menjadi pertandingan sepak bola dunia paling meriah sepanjang sejarah bahkan bila dibandingkan dengan sebelumnya. Mulai dari kejadian tak terduga seperti drama lapangan hijau, banyaknya pemain terbaik dunia, sampai negara-negara pemenang turnamen turut meramaikan acara tersebut. Delapan tim diatas bakal membuat panggung World Cup makin ramai, belum lagi para penonton menunggu adanya kejadian mengejutkan selama pertandingan berlangsung. Misalnya saja seperti prediksi Neymar Jr asal Brazil akan melakukan drama yang sama ketika melawan Belgia atau tuan rumah Rusia menjadi juara dunia kali ini. Tak ada yang tau pasti namun Anda bisa menyaksikan semua turnamen live atau langsung di beberapa stasiun TV Indonesia.