Berita Bola

Kenyataan Rusia Dibalik Gemerlapnya Turnamen Bergengsi Piala Dunia 2018

Kenyataan Rusia Dibalik Gemerlapnya Turnamen Bergengsi Piala Dunia 2018

Rusia sepertinya menjadi negara paling beruntung setelah Brazil yang berhasil menjadi tuan rumah ajang Piala Dunia pada tahun 2018. Siapa sangka negara yang sebelumnya malah mengalami skandal kasus suap atas beberapa anggota Komite Tinggi FIFA, ternyata dinyatakan bebas dan melanjutkan posisi sebagai tempat penyelenggaraan acara tersebut. Padahal banyak pihak serta anggota FIFA lain menyangka jika keputusan tersebut dibatalkan dan menggantinya dengan negara lain.

Pada tanggal 2 Desember 2010, pihak Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA dengan resmi mengumumkan tuan rumah 2018 adalah Rusia. Saat itu juga bersamaan dengan berhasilnya Qatar menjadi tuan rumah di periode tahun 2034 mendatang. Jelas saja keputusan tersebut membuat curiga mengenai dugaan permainan kotor di baliknya. Kemudian diadakan sebuah investigasi oleh mantan pengacara Amerika Serikat untuk menyelidiki kasus tersebut. Sayangnya, hasil laporan tidak diumumkan dan langsung diberikan kepada badan yang bertanggungjawab atas hal tersebut. Sampai saat ini akhirnya masyarakat dunia mengetahui jika Rusia masih layak dan mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018.

Yang Mengejutkan Soal Rusia, Tuan Rumah Piala Dunia 2018

Turnamen Piala Dunia berlangsung pada tanggal 14 Juni sampai 15 Juli 2018, dilaksanakan di 13 kota serta belasan stadion Rusia terbaik serta bertaraf internasional. Pemerintah negara tersebut sudah dari lama mempersiapkan segala sesuatunya sampai rela menghabiskan anggaran dana belasan milyar dollar Amerika. Adapun perinciannya dipakai untuk membayarkan pajak pada FIFA, pembangunan tiap kota, penambahan fasilitas umum, sarana transportasi dan paling penting stadion sepak bola sekaligus tempat pelatihan atau training ground. Kabarnya, seluruh dana tersebut berasal dari aset negara serta uang publik. Oleh sebab itulah mengapa dunia menyebut Piala Dunia 2018 menjadi periode paling mewah dan meriah dibandingkan sebelumnya.

Di balik gemerlapnya acara yang berlangsung selama satu bulan itu, ternyata ada beberapa hal mengejutkan dimana mayarakat belum terlalu mengetahui. Pertama, Rusia dianggap sebagai salah satu negara tuan rumah paling lemah sepanjang sejarah sepak bola. Kedua, negara yang jadi rumah maskot serigala Zabivaka ini begitu mengharapkan keuntungan bisnis lewat perhelatan World Cup. Itulah juga alasan yang mendasari pemerintah mereka begitu ambisius menjadi tuan rumah tunggal.

Berkah Rusia Merupakan Tuan Rumah Paling Lemah?

Rusia selalu saja menjadi pembicaraan dunia selama menjabat sebagai tuan rumah dalam Piala Dunia tahun ini. Negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putih tersebut ternyata dianggap sebagai tuan rumah paling lemah dan mengecewakan. Hal ini dikarenakan peluang menang begitu kecil, walaupun sudah mendapatkan golden ticket untuk melaju ke babak final.

Pelatih tim nasional Rusia, Stainislav Chercesov mengatakan jika sebagai tuan rumah tim mereka harus kuat. Sedangkan untuk bisa berhadapan dengan Jerman akan dilakukan pada babak semi final atau bahkan final. Pendapat tersebut lantas dipandang sebagai sebuah fantasi karena merupakan sebuah tantangan besar bagi Rusia untuk berhasil melawan Mesir, Arab Saudi dan Uruguay. Sementara itu banyak pihak berkomentar dimana negara tersebut masih minim prestasi soal pertandingan sepak bola kelas internasional sehingga pengalamannya belum cukup banyak. Berbeda dengan negara-negara sebelumnya, contohnya seperti Brazil yang menjadi salah satu tim nasional terkuat sepanjang Piala Dunia.

Sempitnya kesempatan menang bagi Rusia menjadi tantangan tersendiri bagi sang pelatih. Cherchesov mengakui jika para pemainnya sudah sangat bagus, ada tiga anggota dengan prestasi tinggi dan berkompeten namun semuanya cidera. Viktor Vasin, Aleksandr Kokorin dan Georgi Dzhikiya absen dari Piala Dunia 2018 karena mengalami cidera sehingga tidak mampu bertanding. Padahal mereka memegang posisi paling penting yaitu sebagai lini pertahanan Rusia. Citra buruk negara tersebut bertambah ketika muncul kejadian kurang mengenakkan karena Konstantin Rausch dan Roman Neustädter mendatangi diskotik setelah kalah dari Brazil. Kemudian keduanya juga mendappatkan hukuman dari ikatan sepak bola. Bisa diambil kesimpulan jika tim Rusia kekurangan pemain unggulan dan potensial dalam melangsungkan pertandingan Piala Dunia. Tidaklah heran jika negara lain serta masyarakat sekalipun memprediksi mereka bakal kalah dengan cepat karena lemahnya pertahanan membuat peforma tim menjadi tidak baik.

Hal lain yang membuat negara tersebut dianggap lemah karena faktor sejarah permainan tim nasionalnya. Saat Piala Dunia tahun 1994, 2002, dan 2014 Rusia berada di urutan paling bawah di grup. Kemudian juga mereka mengalami kekalahan di Euro 2016 atau Kejuaraan Sepak Bola Eriopa UEFA di Prancis sehingga membuat dunia meragukan kekuatan timnya. Ditambah lagi tidak ada satupun pelatih timnas Rusia bertahan lebih dari dua tahun karena kondisi tersebut. Sebelumnya, sejak tahun 1992 sampai sebelum Cherchesov masuk, telah ada sembilan pelatih yang memutuskan mengundurkan diri.

Rusia Harapkan Keuntungan Bisnis Piala Dunia 2018

Meskipun sejak awal telah dianggap sebagai tuan rumah paling lemah tetapi pihak Rusia tak pernah ambil pusing. Tim mereka tetap melaju dan mempersembahkan permainan sepak bola sebaik mungkin. Lagipula, kita semua telah melihat begitu bagusnya turnamen Piala Dunia 2018 karena pemerintahan Rusia telah mempersiapkan berbagai macam hal sejak bertahun-tahun lalu. Mulai dari megahnya gedung-gedung stadion, bandara standar internasional, fasilitas publik bertambah dan lain sebagainya. Tidak hanya para peserta saja yang dapat menikmati namun wisatawan dan penonton dari seluruh dunia yang datang langsung kesana. Satu hal lagi rahasia di balik Piala Dunia 2018 dimana Rusia mengharapkan keuntungan tersendiri. Lebih tepatnya untuk mengembangkan beberapa sektor dalam negara, seperti ekonnomi dan pariwisata. Selain agar bisa menutup modal yang dikeluarkan, hal tersebut juga menjadi investasi Rusia dalam jangka panjang.

Presiden FIFA, Sepp Blatter sendiri mengatakan jika Piala Dunia 2018 sangat unik dan menarik karena akan mengunjungi tempat-tempat baru yang berbeda dari sebelumnya. Selain menjadi tuan rumah turnamen, negara Rusia juga merupakan destinasi pariwisata dunia terbaik. Tentunya hal ini menjadi kesempatan terbaik bagi para turis sekaligus penonton Piala Dunia. Ditambah lagi pemerintah juga akan menghapus kewajiban visa yang terbilang sulit di Rusia untuk memudahkan para penonton. Kemudian mereka juga diperbolehkan melakukan perjalanan gratis dari satu satu kota ke lainnya dimana turut menyelenggarakan Piala Dunia. Dengan kata lain, ini menjadi kesempatan besar bagi masyarakat untuk datang dan berwisata ke negara tersebut. Secara tak langsung bertambahnya wisatawan asing akan mengembangkan dan meningkatkan sektor pariwisata sekaligus ekonominya. Tidak perlu susah payah melakukan promosi sampai ke luar negeri karena akan ada banyak sekali masyarakat dunia mengetahui jika Rusia merupakan negara menakjubkan.

Ternyata menjadi tuan rumah bukan berarti lepas begitu saja dari resiko. Seperti halnya yang terjadi pada Rusia, tuan rumah Piala Dunia 2018 dimana dianggap sebagai negara paling lemah untuk turnamen bergengsi tersebut. Dibalik berita tak mengenakkan tersebut, ternyata pemerintah Rusia sedang mempersiapkan strategi lain yaitu mengambil keuntungan sebanyak mungkin lewat Piala Dunia. Apalagi posisi sebagai tuan rumah menjadikan popularitas mereka naik drastis sehingga beberapa sektor turut berkembang seperti bidang pariwisata, ekonomi dan sebagainya.

Perebutan tempat ke-3 piala dunia, Inggris Takluk dengan Belgia

Perebutan juara ke-3 di ajang piala dunia 2018 ini mempertemukan Inggris dan Belgia. Inggris yang kalah melawan kroasia di babak semifinal dan juga belgia yang kalah melawan prancis. Laga ini berlangsung di Stadion Saint-Petersburg. Inggris pun akhirnya dipaksa menyerah atas perlawanan yang dibeikan dengan skor 2-0. Dua gol kemenangan Belgia atas Inggris dicetak oleh Thomas Meunier pada menit ke-4 dan Eden Hazard (82′). Pada babak pertama, Belgia berhasil mencetak gol cepat. Belgia membuka keunggulan pada menit ke-4. umpan crossing berhasil dimanfaatkan oleh Meunier dan berbuah goal. Skor bertahan 1-0 untuk keunggulan Belgia pada babak pertama berakhir.

Pada babak kedua, Inggris melawan, berusaha membalikkan kedudukan. tempo serangan diberikan inggris terus menerus. Belgia terpaksa bermain bertahan, dan beberapa kali membuat serangan balik dengan cepat yang membuat gawang inggris terancam. Inggris kembali mendapat peluang pada menit ke-69. Namun, bola sontekan Eric Dier yang berhasil melewati Courtois digagalkan oleh Toby Alderweireld.
Belgia akhirnya menambah keunggulan lewat serangan balik cepat. Eden hazard berhasil lolos dari penjagaan ketat bek lawan dan akhirnya sepakan nya berbuah goal. skor 2-0 bertahan hingga peluit wasit berdenting dengan keras tanda pertandingan telat usai.

Hary Kane, striker dan kapten Timnas Inggris mengaku bahwa perlawanan yang ditunjukkan kepada Belgia sudah maksimal. Ia mengakui bahwa teman-temannya sudah pasrah dan tidak bisa memberi kemampuan lebih lagi. Namun, Kane tetap memuji aksi perlawanan rekan-rekannya dalam pertandingan perebutan juara ke-3 ajang piala dunia tersebut.

“Para pemain tidak bisa memberi (perlawanan) lagi. Belgia jelas tim yang bagus. Saya tidak bisa menyalahkan para pemain, kami sudah memberikan segalanya,” ungkap Kane

“Kami ingin menyelesaikannya dengan tinggi. Kami kecewa karena tidak memenangkan pertandingan tetapi itu menunjukkan kami masih bisa belajar dan mengangkat kepala kami tinggi,” tambah pemain Tottenham Hotspur itu.

Neymar Pemain Terbaik Brazil Berguling-Guling di Lapangan, Ada Apa Sebenarnya

Neymar Pemain Terbaik Brazil Berguling-Guling di Lapangan, Ada Apa Sebenarnya?

Selama pertandingan Piala Dunia 2018 berlangsung, tidak ada pihak yang mampu mengetahui pasti hal apa saja yang bakal terjadi. Seperti laga antara tim nasional Brazil dan Meksiko yang saling berhadapan satu sama lain pada tanggal 2 Juli, Hari Selasa kemarin. Awalnya keduanya melakukan permainan seperti biasa dengan pemain Brazil unggul dalam perolehan angka yaitu 2-0. Dua goal berhasil diciptakan oleh sang bintang yaitu Neymar kemudian disusul oleh Roberto Firmino.

Seakan belum puas terhadap keunggulan nilai tersebut, salah seorang dari mereka berulah dan membuat drama lapangan hijau. Tepatnnya Neymar berguling-guling ketika pertandingan sedang panas dimana pihak Meksiko tengah berusaha mencuri goal dan menyamakan kedudukan terhadap Brazil. Pemain bernama Miguel Layun diduga menginjak kaki kanan Neymar dengan sengaja sehingga membuatnya harus terjatuh dan meringis menahan sakit. Selama kurang lebih 1 menit lebih berlalu, pemain berusia 26 tahun tersebut masih berada di posisi awal sementara wasit serta yang lainnya berkumpul seperti membuat lingkaran.

Neymar Habiskan 14 Menit Terkapar Selama Piala Dunia 2018

Pada menit pertandingan ke-72 berlangsung terjadi sebuah kejadian tak terduga dimana salah satu pemain Meksiko yaitu Miguel Layun menginjak kaki Neymar Jr asal Brazil. Saat itu keduanya tengah saling merebut bola tetapi secara tiba-tiba Neymar jatuh dan menjerit kesakitan tanpa berhenti sehingga mengundanng perhatian seluruh penonton di stadion. Ia mengungkapkan apabila Layun sengaja meginjak kaki kanannya sehingga ia terjatuh. Namun sebaliknya, pemain Meksiko tersebut membela diri jika ia sama sekali tidak melihat kaki lawannya dan hanya berusaha merebut bola saja. Karena tetap ditahan oleh Neymar maka Layun sedikit kesulitan sehingga tak sengaja menginjak sedikit bagian pergelangan kaki. Akan tetapi sang bintang negara Tari Samba tersebut malah melakukan drama mengejutkan, seolah-olah dirinya tengah diserang hebat oleh Layun sampai cidera parah.

Kabarnya tindakan Neymar dianggap berlebihan dan manja karena seharusnya ia masih dapat melanjutkan permainan. Bahkan ini bukan pertama kalinya melakukan adegan guling-guling di tengah lapangan dalam Piala Dunia 2018 melainkan Neymar sudah mencetak rekor waktu 14 menit terkapar. Pada laga pertamanya melawan Swiss, ia terkapar selama kurang lebih 3 menit 40 detik. Selanjutnya ketika berhadapan dengan Kosta Rika, menghabiskan waktu 2 menit 6 detik. Di laga terakhir fase grup, Neymar terjatuh dan terhenti selama 56 detik. Kejadian terakhir melawan Meksiko dimana Layun menginjak pergelangan kakinya dan harus kesakitan selama 5 menit 30 detik. Dengan begitu total waktunya ada 13 menit 50 detik atau dibulatnya menjadi 14 menit. Karena inilah mengapa insiden kemarin sama sekali tidak menimbulkan simpati terhadap pemain sentral timnas Brazil ini melainkan dianggap sebagai kejadian biasa.

Menuai Banyak Kritikan Berbagai Pihak

Bukannya langsung membela Brazil karena salah satu pemainnya mendapatkan cidera tetapi Neymar malah banyak dicerca. Berbagai pihak menganggap jika ini merupakan permainan semata dimana ia membuat drama sepak bola untuk mendapatkan tujuan tertentu. Pasalnya, sebelumnya Neymar pernah mengalami hal serupa sehingga julukan sebagai “pemain manja” dan “si jago akting” begitu melekat dengan dirinya. Beberapa hal mencurigakan yang ditunjukan seperti reaksi berlebihan seperti tengah mendapatkan cidera serius dan parah sehingga butuh penanganan medis saat itu juga. Jika dilihat kembali, tindakan Neymar seperti disengaja karena kakinya masih baik-baik saja. Bahkan ia dapat melanjutkan permainan dan kembali ke tengah lapangan dengan sehat seperti sedia kala. Kalau cideranya begitu fatal sampai mengharuskan terkapar dan berguling di tanah maka paling tidak kakinya terkilir atau bahkan tulangnya mengalami patah.

Kritikan muncul dari berbagai pihak karena kejadian tersebut, salah satunya pelatih Meksiko bernama Juan Carlos Osoria yang menyayangkan timnya tak mampu mengambil kesempatan menyamai skor dari Brazil dimana saat itu hanya satu goal berhasil didapatkan. Padahal pada saat itu Miguel Layun sedang berusaha mengejar ketertinggalan goal dengan cara merebut bola yang dikendalikan Neymar. Kekecewaan bertambah ketika sang wasit membiarkan perilaku pemain Brazil dan seakan membelanya tanpa memberikan peringatan apapun. Meskipun pada akhirnya Layun tidak diberikan hukuman atau kartu tetapi keputusan wasit seakan satu pihak saja.

Selanjutnya kritikan datang dari pemain legendaris asal timnas Argentina yang pernah berlaga saat Piala Dunia 1986 yaitu Diego Maradona. Pria ini mengungkapkan kekesalan sekaligus rasa kecewa yang sama. Menurutnya sebagai pemain bertalenta seperti Neymar, tak seharusnya bersikap berlebihan dan manja hanya karena kejadian sepele. Di lapangan seringkali terjadi hal-hal mengejutkan termasuk cidera dan mendapatkan kecelakaan tak sengaja dari pemain lain. Bahkan saat itu luka kaki Neymar tidak telalu serius bahkan ia mampu melanjutkan kembali permainan sampai akhir.

Sikap Tidak Fair Wasit

Kabarnya wasit Piala Dunia 2018 dianggap menguntungkan pihak Brazil karena membela Neymar. Pelatih Meksiko kehabisan cara untuk menutupi rasa kecewanya. Tak hanya karena timnya gagal mencuri goal namun kehilangan peluang sekaligus sikap wasit yang tidak fair. Karena insiden tersebut pada akhirnya Meksiko tidak mampu melanjutkan permainan ke babak final dan terpaksa menerima kekalahan dengan lapang dada. Sementara itu dari pihak Neymar sendiri terus mengatakan apabila kakinya terinjak oleh Layun dengan sangat keras sehingga menduga jika itu suatu kesengajaan. Osorio menganggap apabila tim Brazil sangat diuntungkan terhadap intervensi yang dilakukan Rossi selaku wasit Piala Dunia 2018 saat itu.

Menanggapi hal tersebut Layun membela diri karena dirinya memang tidak sengaja menginjak sedikit. Namun reaksi sang lawan main begitu kelewat berlebihan sehingga semua mata menganggap jika Layun bersalah, padahal injakan tersebut juga mengenai wakil wasit. Kemudian setelah video diputar ulang, wasit memutuskan hal tersebut tidak sengaja dan permainan kembali dilanjutkan. Bahkan Neymar sendiri langsung berdiri seperti tak terjadi apapun sehingga membuat Meksiko sangat kesal dibuatnya. Walaupun begitu mereka berusaha bermain dengan dewasa dan mengakui kemenangan Brazil dengan skor 2-0. Pelatih Osorio juga telah sangat puas terhadap peforma para anak didiknya di dalam lapangan. Kemudian ia berharap agar di lain kesempatan mereka dapat terus berkembang dan memenangkan pertandingan secara internasional. Pelatih ini juga mengakui apabila berhadapan dengan Brazil merupakan saat paling sulit sehingga jangan sampai membuang peluang sedikitpun. Akan tetapi hal tersebut kemudian berantakan karena Neymar dianggap telah merusak strategi yang sudah susah payah diciptakan dan pada akhirnya Meksiko harus merelakan nilai kosong tanpa satupun mencetak goal.

Saat Piala Dunia berlangsung, setiap kejadian bisa saja terjadi kapanpun dimanapun. Mulai dari tindakan curang yang dilakukan para pemain untuk mendapatkan goal sampai sikap anarkis sekalipun. Sejak pertama kali diselenggarakan tahun 1930 silam, beberapa insiden mengejutkan sudah ada bahkan sampai sekarang. Beberapa diantaranya malah menjadi sejarah tak terlupakan sepanjang permainan di laga bergengsi Piala Dunia.

Menjadi Negara Tuan Rumah Piala Dunia, Apa Sih Pro dan Kontranya

Menjadi Negara Tuan Rumah Piala Dunia, Apa Sih Pro dan Kontranya?

Satu hal paling menarik untuk dibahas yakni mengenai tuan rumah yang menjadi tempat diselenggarakannya Piala Dunia. hal ini dikarenakan terdapat pro dan juga kontra sepanjang sejarah mulai dari dihelatnya Piala Dunia tahun 1930 silam. Padahal pada waktu pertama kali diadakan pertandingan sepak bola tingkat internasional tersebut, Pihak Federasi FIFA sendiri memilih Uruguay sebagai tuan rumah karena berbagai macam alasan. Adapun diantaranya karena pada waktu itu Uruguay tengah merayakan keseratus tahun kemerdekaan serta memenangkan dua kali juara dunia. Kemudian FIFA menunjukknya sebagai panitia utama yang mengurus tempat pertandingan selama satu bulan penuh. Setelah itu diadakanlah sistem bidding atau pengambilan suara oleh seluruh negara anggota FIFA untuk menentukan para kandidat tuan rumah.

Banyaknya Pro Kontra Mengenai Tuan Rumah

Nyaris setiap negara anggota menginginkan posisi sebagai tuan rumah dalam Piala Dunia karena dianggap mampu memberikan keuntungan. Akan tetapi hal tersebut disanggah oleh berbagai macam pihak dimana menganggap posisi tersebut malah menjadikan negara bangkrut dan miskin. Sementara itu pada kenyataannya untuk periode Piala Dunia 2018 kemarin telah ada enam kandidat yang maju ke pemilihan tuan rumah diantaranya Rusia, Inggris, Belanda, Spanyol dan beberapa lainnya. Kemudian Rusia menang pada voting tahap pertama dengan total suara 6 buah. Namun itu masih belum cukup karena dianggap hanya memenuhi 50% prosesnya saja dan harus diadakan bidding lagi untuk kedua kalinya.

Setelah diumumkan menang pada tanggal 2 Desembar 2010 maka pihak pemerintahan Rusia mempersiapkan berbagai macam hal untuk menyelenggarakan Piala Dunia 2018. Dana yang dihabiskan sekitar 11,8 milyar dollar AS atau bisa disetarakan dengan uang ratusan triliun rupiah. Bayangkan saja jika Indonesia melakukan hal yang sama maka bisa habis aset simpanan negara dan rakyat menjadi miskin mendadak. Rusia sendiri mengalokasikan anggaran tersebut ke berbagai macam sektor, terutama infrastrutur dan fasilitas tiap kota. Terdapat 13 kota besar sebagai tempat Piaal Dunia sehingga harus benar-benar diperhatikan segala sesuatunya mulai dari pembangunan stadion berstandar internasional, hotel dan penginapan mewah, sarana transportasi, bandara, dan lain sebagainya. Selain Rusia, Brazil serta Afrika Selatan yang periode kemarin sempat juga menjadi tuan rumah juga bernasib sama meskipun dengan jumlah dana lebih kecil. Paling para terjadi di Afrika Selatan dimana pihak FIFA dan sponsor menuntut adanya perbaikan dan penambahan fasilitas termasuk gedung stadion supaya dibuat lebih megah daripada sebelumnya. Hal ini membuat negara tersebut harus mengubah ulang anggaran dana dan membuatnya menjadi lebih besar sampai tiga kali lipat.

Inilah yang kemudian menimbulkan pro serta kontra posisi tuan rumah Piala Dunia. Meskipun sudah jelas bakal membutuhkan modal terlampau besar tetapi beberapa negara masih mempunyai ambisi besar. Memang ada perimbangan tertentu dimana akan menjadi sebuah peluang besar jika suatu negara berhasil mendapatkan prestasi tersebut. Disamping itu pihak kontra menganggapnya menimbulkan kerugian sampai menghabiskan anggaran negara.

Keuntungan Tuan Rumah Piala Dunia

Berikut ini keuntungan yang didapatkan para negara yang meyelenggarakan Piala Dunia:

  1. Peluang untuk menjadi negara katalis pembangunan dimana terdapat berbagai macam fasilitas baru, seperti stadion, sarana transportasi, bandara, penginapan, tempat wisata dan lain sebagainya.
  2. Popularitas semakin meningkat sehingga negara tersebut dapat lebih dikenal oleh dunia. Ini dapat membantu dalam pembangunan tiap sektor kehidupan, salah satunya bagian pariwisata yang semakin baik.
  3. Tim nasional sepak bolanya lebih diakui di mata dunia karena mampu berlaga sampai tingkat Piala Dunia. Pihak pemerintah juga sudah pasti akan menyediakan fasilitas dan kebutuhan tim andalan mereka seperti pelatih profesional, tempat latihan dan sebagainya.
  4. Perekonomiannya juga ikut berkembang pesat karena akan ada banyak wisatawan asing mendatangi tempat tersebut. Tidak mungkin mereka hanya menonton pertandingan kemudian pulang tetapi sudah pasti akan menghabiskan beberapa hari di negara tersebut. Selama itu, turis internasional membutuhkan berbagai keperluan, seperti penginapan, bahan makanan, merchandise, dan lain sebagainya. Tidaklah heran jika ada begitu banyak penduduk asli berjualan di sepanjang stadion atau pusat oleh-oleh untuk menawarkan barang khas negara tuan rumah.

Kerugian Bagi Negara Tuan Rumah

Setelah mengetahui keuntungannya maka mari kita lihat apa sajakah kerugian jika menggelar Piala Dunia.

  1. Meskipun bisa dijadikan sebagai prestise atau kebangaan tersendiri, ternyata tuan rumah Piala Dunia harus mengeluarkan budget besar. Bukan hanya dari aset negara saja melainkan anggaran berasal dari uang publik atau warga negaranya sendiri.
  2. Rawan terjadinya skandal suap dan juga korupsi yang nantinya bakal membawa citra buruk terhadap negara tersebut. Misalnya saja seperti yang kejadian barusan dimana Rusia dan Qatar diduga melakukan suap terhadap beberapa anggota Komita FIFA supaya bisa berhasil menjadi tuan rumah. Pada saat itu Rusia menjadi tuan rumah di tahun 2018 sedangkan Qatar tahun 2022 mendatang.
  3. Harus berani menanggung malu apabila sampai kalah dalam pertandingan. Sebagai tuan rumah tidak selalu menyandang popularitas dan kebanggan saja melainkan resiko. Jika sampai tim nasionalnya mengalami kekalahan bahkan ketika di babak awal maka negara tersebut bisa dikritik bahkan dicaci maki oleh para penggemar serta masyarakat luas. Ini bukanlah ketakutan semata melainkan sudah dibuktikan melalui kekalahan Brazil di Piala Dunia 2014 silam. Brazil saat itu menjadi tuan rumah dan malah dipermalukan dengan perolehan skor 1-7. Contoh lainnya terjadi di Piala Dunia 1970 dan 1986 dimana Meksiko menjadi tuan rumah sebanyak dua kali namun malah kalah serta gagal masuk semifinal.

Itulah pembahasan mengenai pro sekaligus kontra ketika suatu negara tertentu menjadi tuan rumah dalam ajang Piala Dunia. Sebagian dari anggota FIFA sudah ada yang benar-benar sadar akan kerugian tersebut namun beberapa diantaranya tetap berusaha maju sebagai kandidat. Mengingat begitu besar peluang memajukan pemerintahan, negara dan kualitas rakyat melalui turnamen bergengsi tersebut. Bahkan Indonesia sendiri juga sedang sibuk merencanakan menjadi tuan rumah di Piala Dunia periode mendatang. Sempat dikabarkan jika Thailand bakal memberikan bantuan dengan cara bergabung menjadi tuan rumah di Piala Dunia tahun 2034. Dukungan lain muncul dari pihak AFF serta perwakilan FIFA sendiri yang menginginkan Asia Tenggara mencetak sejarah dengan menyelenggarakan turnamen tersebut.

Namun begitu, tentu Indonesia harus menyiapkan berbagai macam hal mulai dari modal, kekuatan mental dan pembangunan dalam negeri. Mengingat syarat yang diajukan sponsor dan Asosiasi FIFA tidaklah mudah, salah satunya mengharuskan ada 20 stadion internasional untuk para pesertanya. Masih ada waktu belasan tahun lagi bagi kedua negara mempersiapkan segala hal dengan matang agar tidak kalah dari tuan rumah sebelumnya seperti negara-negara bagian Eropa. Siapa sangak jika nantinya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 bakal menjadikan Indonesia lebih populer, diakui dunia dan mendapatkan banyak kesempatan dalam berbagai macam bidang.

Final Piala dunia 2018, Prancis vs Kroasia!

Ajang 4 tahun an sekali, Piala Dunia FIFA 2018 kini memasuki babak akhir, babak final sebagai penentu siapakah pemenang, yang pantas mengangkat piala emas dunia ini. Pertandingan ini menjadi final yang ke-21 dari Piala Dunia FIFA, turnamen empat tahunan yang diikuti oleh tim nasional asosiasi anggota FIFA.

Final Piala Dunia 2018 akan berlangsung seru dan menarik. Pasalnya kedua tim sama-sama bisa menurunkan kekuatan terbaik. Tidak ada yang terkena sanksi ataupun cedera. kedua tim memiliki perbedaan gaya permainan dan karakter.

Perancis melaju ke babak final setelah berhasil mengalahkan Belgia pada semifinal dengan skor tipis 1-0 melalui gol yang dicetak oleh Samuel Umtiti pada menit ke-51 di St Petersburg Stadium. Sedangkan Kroasia sang kuda hitam ini berhasil membalikkan keadaan dengan skor 2-1 di menit-menit perpanjangan waktu melawan inggris. Pada laga ini, gol Inggris dicetak Kieran Trippier pada menit ke-5. Kroasia mencetak gol balasan pada menit ke-68 melalui Ivan Perisic dan gol kemenangan dicetak Mario Mandzukic pada menit ke-109 di babak extra time.

Jika melihat pada masing-masing skuad kedua tim, kondisi tim dan rekor pertemuan antara Prancis melawan Kroasia, maka tim dibawah asuhan Didier Deschamps itu lebih diunggulkan untuk memenangkan laga tersebut. Dari komposisi pemain yang dimiliki kedua tim, sejatinya hampir seimbang di mana terdapat nama-nama besar.

Namun demikian, Kroasia sebenarnya memilki keunggulan lebih karena para pemain tim asuhan Dalic itu lebih matang secara pengalaman. Sementara itu, Prancis yang lebih banyak didominasi pemain muda tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk berlaga di pertandingan sebesar final Piala Dunia 2018.

Sebelumnya, Prancis sukses mengalahkan Argentina dan Belgia. Di pertandingan tersebut, Deschamps berhasil memasang strategi yang mematikan pergerakan Lionel Messi dan Eden Hazard.

Alhasil, banyak pihak menilai Prancis tak akan kesulitan mengatasi Modric. Sebab Modric dianggap tak terlalu sering bergerak sebagaimana yang dilakukan Messi atau Hazard.
Mereka beruntung mempunyai gelandang sekelas Modric dan Rakitic. Baginya Modric adalah pemain yang berbahaya, bahkan lebih banyak bergerak ketimbang Messi atau Hazard.

“Maaf, tetapi sepertinya anda tidak melihat Modric yang sama dengan saya jika anda berpikir daya jelajahnya kurang,” ujar Deschamps di fourfourtwo.

“Dia bisa bermain di tengah, tidak selalu, tetapi jelas dia memiliki kualitas teknis yang sesuai dengan rekannya Ivan Rakitic, dan dia bermain sangat cerdas, jadi jelas dia sangat berpengaruh pada timnya.”

Mengerikan, Inilah Mitos yang Beredar dalam Piala Dunia

Mengerikan, Inilah Mitos yang Beredar dalam Piala Dunia

Mitos seringkali muncul di dalam kehidupan manusia, berlaku di suatu daerah ataupun kejadian tertentu. Siapa yang menyangka apabila ternyata dalam ajang bergengsi nan mewah Piaal Dunia juga mengenal sejumlah mitos. Kabarnya misteri tersebut selalu membayangi orang-orang terkait dalam turnamen tersebut, mulai dari pemain, pelatih, panitia bahkan para suporter maupun penontonnya sekalipun. Tentu saja hal menarik tersebut menarik untuk diperbincangkan dimana sebagian besar masyarakat ada yang 100% percaya, menolak percaya bahkan penasaran hingga mencari kebenarannya sendiri.

Sudah Ada Sejak Piala Dunia Sebelumnya

Percaya atau tidak beberapa mitos seputar Piala Dunia sudah ada sejak periode lama, jauh sebelum tahun 2018 sekarang ini. Beberapa diantaranya bahkan sudah dipecahkan dan diketahui alasannya namun sebagian lagi masih menjadi rahasia. Sebagai contoh mari kita lihat kejadian Piala Dunia yang terjadi pada tahun 1970 di Meksiko. Sebelumnya ada sebuah mitos mengatakan jika seluruh negara di Eropa tidak akan pernah memenangkan juara dunia jika pertandingan diselenggarakan di Amerika. Periode tersebut membuktikan apabila anggapan tersebut benar-benar terjadi dimana pada saat itu Brazil berhasil mengalahkan Italia. Dilanjutkan dengan Piala Dunia tahun 1978, Argentina menjadi tuan rumah sekaligus menang terhadap Belanda. Padahal timnas Belanda sangat digadang-gadang menjadi juara tetapi harapan harus kandas setelah berhadapan dengan sang tuan rumah. Pertanyaannya, apakah kejadian berturut-turut tersebut hanyalah kebetulan, murni kemampuan para pemain atau berkaitan langsung dengan kutukan atau mitos? Sampai sekarang hal tersebut masih belum terpecahkan sehingga banyak masyarakat yang merasa berdebar ketika ada kejadian yang begitu cocok dengan pantangan mitos tersebut.

Berbagai Macam Mitos dalam Sejarah Piala Dunia

Sebagian orag menganggap jika keberadaan misteri dan mitos Piala Dunia hanyalah taktik bagi pihak tertenu untuk mengambil keuntungan saja. Tujuannya cukup dapat ditebak dimana mitos tersebut akan membuat takut atau khawatir beberapa negara yang menjadi lawan di pertandingan. Nah, adapun macam-macam mitos Piala Dunia yang sampai saat ini masih diperdebatkan antara lain sebagai berikut:

  1. Kutukan untu sang juara bertahan
    Sepanjang sejarah turnamen sepak bola Piala Dunia tentu saja ada yang memegang posisi sebagai juara bertahan. Artinya suatu tim nasional dari negara tertentu akan menang secara berturut-turut dalam beberapa periode sekaligus. Kabarnya, ada kutukan yang mengatakan jika juara bertahan tidak akan berlaga buruk di pertandingan berikutnya. Anggapan ini bermula sejak Piala Dunia tahun 1998 dan terus berkelanjutan sampai beberapa tahun setelahnya. Misalnya saja ketika Perancis tidak sanggup bertahan dari fase grup Piala Dunia 2002. Sementara itu Brazil yang dianggap dapat menang ternyata malah kalah tepatnya pada seperempat final Piala Dunia 2006. Kutukan masih terus berlanjut dan giliran Italia terkena batunya dimana tim nasional mereka gagal menang di Piala dunia 2010. Bahkan negara tersebut dikatakan hanya berperan sebagai juru kunci saja ketika bersaing dengan Selandia Baru, Spanyol dan Paraguay.
  2. Pelatih asing tidak mampu membuat tim didikannya menang
    Sehebat apapun pelatih dalam tim nasional Piala Dunia yang berasal dari negara lain atau disebut asing maka tidak akan berhasil memenangkan pertandingan. Inilah kutukan atau mitos selanjutnya yang masih dipercaya oleh masyarakat luas selama Piala Dunia berlangsung. Hal ini diperkuat dengan beberapa kejadian dimana sejak Piala Dunia 1930, tidak satupun pelatih asing mampu membawa anak buahnya menuju gerbang kemenangan. Memang sulit dipercaya namun kejadian tersebut selalu berulang bahkan sampai saat ini sehingga membuat tiap negara menjadi khawatir.
  3. Kipper negara sendiri tidak akan membuat Brazil menang
    Selanjutnya mitos Piala Dunia hanya berlaku untuk negara Brazil saja dimana tim nasional mereka tidak akan menang jika kippernya berasal dari negara sendiri. Selain itu ada pula kutukan tambahan yang mengatakan apabila Brazil menjadi tuan rumah turnamen maka timnya tidak mampu menjadi juara dunia.
  4. Adanya kutukan juara piala konfederasi
    Mitos lain paling terkenal yaitu mengenai juara piala konfederasi dalam Piala Dunia. Kutukan tersebut menjadi kenyataan dan menghantui timnas dari Jerman karena mereka berhasil mendapatkan gelar sebagai juara Piala Konfederasi. Menurut kabar yang beredar, sang juara tidak dapat menang dalam turnamen sepak bola dunia jika sudah mendapatkan piala tersebut. Pada saat itu sudah pernah terjadi dimana Brazil memengang posisi sebagai juara Piala Konfederasi tahun 1997, 2009, dan 2013 dan terbukti gagal lolos ke Piala Dunia di tahun yang sama pula. Sama halnya dengan timnas Perancis kalah dalam perebutan juara World Cup di tahun 2002.
  5. Inggris dikutuk oleh Jerman
    Pada saat Piala Dunia 1966, tim dari Inggris berhasil menjuarai turnamen setelah mengalahkan lawannya Jerman. Akan tetapi terjadi hal mengejutkan dimana pihak Jerman mengutuk mereka selamanya kalah dan tidak pernah berhasil menjadi juara lagi setelah itu. Jerman merasa sangat dirugikan oleh Inggirs karena satu goal yang sebenarnya tidak melewati garis gawang tapi dianggap berhasil. Oleh sebab itulah tim tersebut merasa sakit hati padahal peluang menang sudah di depan mata.
  6. Nasib sial yang dialami Inggris
    Inggris juga ketiban sial karena adanya mitos Piala Dunia yang mentakanan jik timnas miliknya akan kalah selama empat periode. Ini didukung dengan kenyataan ketika Inggis kalah melawan Argentina pada tahun 1998, Brazil pada tahun 2002, Portugal di 2006 dan terakhir berhadapan dengan Argentina kembali di Piala Dunia 2010.
  7. Tim lemah yang menang dalam empat turnamen terakhir
    Mitos terakhir adalah mengenai munculnya tim mengejutkan yang bakal menang dalam empat pertandingan terakhir Piala Dunia. Yang dimaksud dengan tim mengejutkan yaitu tim nasional dianggap lemah dan kalah tetapi akhirnya berhasil mencetak angka lebih unggul daripada rivalnya. Hal ini sudah terjadi beberapa kali, contohnya saja seperti Piala Dunia 1998 dimana Kroasia menjadi tim kacangan dan tidak diunggulkan. Pada kenyataannya mereka sukses melenggang sampai ke babak semifinal bersama tim kuat lainnya. Sementara itu pada tahun 2002 berulang kejadian sama, ada tiga tim non unggulan diantaranya Turki, Senegal dan Korea Selatan. Ketiganya sama sekali tidak diprediksi menang dan lolos tetapi malah sama-sama melaju ke babak akhir. Piala Dunia 2006 yang menjadi tim kejutan adalah Ukraina, kemudian tahun 2010 ada Paraguay dan Ghana. Memang mitos yang satu ini mengajarkan pada kita semua kalau jangan pernah menilai sesuatu dari kulitnya saja karena keajaiban dalam bentuk apapun bisa saja terjadi.

Itulah beberapa mitos selama Piala Dunia berlangsung bahkan telah menghantui dunia sepak bola sejak pertama kali diselenggarakannya turnamen pada tahun 1930 silam. Mau percaya atau tidak, nyatanya sebagian besar kutukan dan ketakutan dalam mitos tersebut selalu terbukti kejadian sehingga membuat masyarakat serta tiap negara menjadi kaget sekaligus merasa khawatir.

Neymar Jr, Pemain Timnas Brazil Kembali “Berakting” Melawan Meksiko

Neymar Jr, Pemain Timnas Brazil Kembali “Berakting” Melawan Meksiko

Salah satu hal paling menarik dari Piala Dunia 2018 kali ini adalah diselenggarakan di Rusia. Negara ini menjadi satu-satunya tuan rumah asal Eropa Timur sepanjang sejarah Piala Dunia berlangsung. Tentunya suatu lkebanggaan tersendiri bagi pemerintahan negara tersebut sehingga berusaha sebaik mungkin memberikan pelayanan serta menyediakan fasilitas memadai bagi para negara peserta bahkan penonton internasional. Selain karena Rusia, adca lagi hal menarik dari ajang turnamen tahun ini yaitu bertabur para bintang populer lapangan hijau. Adapun nama-nama yang muncul diantaranya seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Maradona dan juga Neymar Jr. Namun diantara lainnya, Neymar merupakan salah satu pemain sepak bola di Piala Dunia Rusia yang paling banyak menyita perhatian akhir-akhir ini.

Ketika tim nasional Brazil tengah melawan Meksiko pada hari Senin, tanggal 2 Juli 2018 kemarin, pemain hebat tersebut malah melakukan hal memalukan. Neymar dianggap sedang berakting di tengah lapangan untuk mencari perhatian. Hal ini bukan pertama kalinya namun sudah beberapa kali Neymar melakukan hal sama di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Oleh sebab itulah mengapa tindakannya banyak dikritik pedas oleh berbagai pihak, mulai dari pelatih Meksiko, pemain lain seperti Ronaldo dan Maradona, bahkan FIFA sendiri.

Akting Neymar Dianggap Biasa

Ketika tengah bergelut di tengah stadion, Brazil berhasil mengalahkan Meksiko dengan skor 2-0 di laga 16 besar Piala Dunia Rusia. Terdapat dua pemain andalan Negeri Tari Samba yang menghadiahkan goal yaitu Neymar kemudian Roberto Firmino pada babak kedua permainan. Awalnya bermain dengan apik ternyata Neymar kembali membuat perkara dimana ia membuat sebuah drama baru di tengah stadion. Terjadi insiden dimana Neymar dan salah seorang pemain dari timnas Meksiko yaitu Miguel Layun bertabrakan. Tepatnya pada menit ke-72 ketika negara Brazil sudah lebih unggul skor 1-0, sang bintang Neymar tiba-tiba berguling-guling di tengah lapangan sehingga membuat semua orang terkejut. Diketahui jika Layun tengah mencoba merebut bola kemudian dengan cepat mendarat mengenai pergelangan kaki sebelah kanan lawannya tersebut. Entah disengaja maupun tidak, Neymar otomatis berteriak sambil mengerang kesakitan. Padahal banyak pihak memprediksi jika kondisinya baik-baik saja dan mampu berdiri serta melanjutkan pertandingan. Namun sebaliknya, Neymar masih tetap pada posisi kesakitan selama 14 menit sehingga membuat pertandingan terhenti sejenak.

Kejadian tersebut bukannya membuat berbagai pihak simpati namun malah geli sendiri. Pemain muda 26 tahun itu dianggap manja dan berlebihan bahkan sampai menimbulkan drama baru. Parahnya lagi aksi tersebut dianggap sudah biasa dan menjadi ciri khas dari Neymar. Sementara itu sang rival, Layun mengatakan jika ia ingin menjadi tokoh protagonis dan mencari perhatian saat sedang bertanding. Insiden mendadak tersebut lantas begitu disayangkan terutama oleh Meksiko karena bertepatan ketika timnas mereka tengah berusaha menyamakan kedudukannya.

Pro Konta Terhadap Akting Neymar

Tak hanya pihak negara Meksiko saja yang geram namun beberapa pemain kondang lainnya. Salah satunya adalah legenda asal Argentina, Diego Maradona yang mengatakan jika Neymar memang terlalu merusak suasana atas sikap berlebihannya tersebut. Ia sendiri mengak sangat gemas dan meminta pemain Brazil itu agar bersikap lebih dewasa karena mampu merugikan tim lain juga. Tanggapan serupa diungkapkan oleh pemain legendaris berikutnya yaitu Lothar Matthaeus. Kapten dari timnas Jerman di Piala Dunia tahun 1990 tersebut merasakan kekecewaan yang sama bahkan membandingkan dengan Maradona dan Messi dimana tidak pernah melakukan tindakan memalukan serupa demi mendapatkan simpati. Kemudian kritik kembali keluar dari pihak lain seperti kipper asal Denmark yaitu Kasper Schmeichel dan Juan Carlos Osorio pelatih Meksiko.

Disamping itu ada pula Cristiano Ronaldo memberikan tanggapan berbeda daripada pihak lain. Dirinya berpendapat apabila kritikan tersebut hanya taktik media untuk mengisi kolom berita mereka saja. Ia menjelaskan apabila Neymar adalah pemain terbaik Brazil, menjadi tokoh sentral yang punya peran besar terhadap menang ataupun kalahnya timnas selama laga Piala Dunia. Ronaldo kembali menambahkan kalau pemain muda tersebut masih kurang mendapat perlindungan dari wasit, terutama ketika terjadi sebuah insiden seperti melawan Meksiko kemarin. Seringkali terdapat perlakuan tidak adil ketika beberapa pemain lawan berusaha menyerang para bintang lapangan untuk menyamakan kedudukan, mengecoh, ataupun tindakan licik lainnya. Itulah yang menurutnya sedang terjadi pada Neymar, mengingat ia menjadi salah satu pemain Brazil paling ditakuti selama pertandingan berlangsung. Bukannya tak mungkin apabila serangan tersebut memang disengaja untuk mengambil kesempatan atau merasa terintimidasi oleh kemampuan bermainnya.

Prediksi Kejadian yang Sama Ketika Lawan Belgia

Setelah bertanding melawan Meksiko, timnas Brazil akan berhadapan dengan Belgia di babak berikutnya. Sayangnya insiden drama Neymar kembali dibahas dan dianggap akan terulang kembali ketika tengah melawan tim nasional dari Belgia. Tepatnya di Kazan Arena, kedua negara akan saling bertemu dan bertanding pada seperempat final Piala Dunia 2018. Tak bisa dipungkiri jika Neymar merupakan pemain paling mengancam dan patut diwaspadai. Selain karena teknik bermainnya memukau, kekhawatiran akan muncul apabila dirinya melakukan drama lagi sehingga membuat Belgia kehilangan kesempatan menang seperti Meksiko. Menanggapi prediksi tersebut, Kompany memberikan pertanyaan jika mereka tidak perduli apabila Neymar melakukan akting lagi. Pemain dari Manchester City itu menambahkan apabila kesempatan menang akan selalu ada karena permainan dilakukan secara kolektif atau tim. Meskipun Neymar dianggap mematikan tetapi timnas Belgia beserta para pemain andalan akan berjuang bersama untuk mendapatkan kemenangan melawan Brazil. Apapun yang dilakukan pemain lain, sama sekali tidak berpengaruh terhadap mereka.

Karena begitu banyak kritikan pedas terkait dirinya maka Neymar angkat bicara dan membenarkan jika pemain Meksiko menginjak kaki kanannya. Bahkan dirinya menganggap apabila tindakan tersebut tidak fair sama sekali sehingga ia meminta pembelaan. Hal ini juga diungkapkan oleh sang pelatih Brazil yang membela Neymar karena melihat langsung serta semuanya sudah terekam jelas di video. Miguek Layun sendiri mengaku tak sengaja menginjak kaki sang pemain termahal di dunia tersebut karena tidak melihatnya sama sekali. Ia hanya berusaha merebut bola yang tadinya ditahan oleh Neymar kemudian secara tak sengaja menginjak sedikit bagian dari kakinya. Bahkan sang wasit juga mengungkapkan jika kejadian tersebut memang dilakukan secara tidak disengaja sehingga tidak perlu diperpanjang sampai mengorbankan waktu pertandingan.

Terkait Neymar sang bintang Brazil tersebut hanya akting ataupun bukan memang belum jelas. Meskipun ia dinilai berlebihan dan manja tetapi ada pula pihak yang memberikan pembelaan dimana mengatakan jika hal tersebut disengaja untuk menjatuhkan dirinya. Apalagi Neymar dianggap sebagai pemain paling diperhitungkan dalam lapangan sehingga tidak menutup kemungkinan jika tim lain termasuk Meksiko merasa terancam. Sementara itu pertandingan berakhir dan tetap dimenangkan oleh tim nasional Brazil dimana Meksiko tidak mampu melanjutkan sampai ke final.

Tim kuda hitam yang tidak difavoritkan di piala dunia ini malah masuk final piala dunia

Kroasia akhirnya mengalahkan Tim Inggris di ajang semifinal piala dunia 2018 ini. Kroasia berhasil membalikkan kedudukan setelah sebelumya ketinggalan 1 gol di menit ke 5 oleh pemain inggris. Kroasia berhasil menyerang balik dan akhinrya menyongsong final perdana sepanjang sejarah sepakbola mereka setelah sukses memukul Inggris 2-1 di semi-final Piala Dunia 2018. Kroasia lagi-lagi menunjukkan determinasi tinggi seperti yang telah mereka tunjukkan. Kroasia menyamakan skor via Ivan Perisic, memaksakan laga dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Gol penentu datang dari Mandukic, yang memupus impian football is coming home milik Inggris.

Di partai Final, Kroasia sudah dinanti oleh Prancis yang sehari sebelumnya mampu memukul Belgia 1-0 lewat gol tunggal bintang barcelona, samuel Umtiti.

Namun, Inggris dan Belgia belum akan pulang dari Rusia. Keduanya masih bertarung untuk memperebutkan tempat ketiga. Pertandingan hiburan ini bakal digelar sehari sebelum final.

Kroasia vs Prancis. kita tahu ini bukanlah final idaman. Barangkali itulah gambaran final Piala Dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia. Publik Pencinta sepakbola di seluruh dunia tidak akan disuguhkan partai puncak Piala Dunia yang mempertemukan para favorit. terlalu banyak kejutan di ajang piala dunia 2018 yang diadakan di russia kali ini. hali ini tersuguhkan dengan tersingkirnya tim-tim kelas atas seperti Jerman, Spanyol, Brasil, Argentina, dan Inggris. Satu-satunya tim besar yang tersisa adalah Prancis di mana mereka akan berjumpa tim kuda hitam Kroasia di final.

Final Piala Dunia 2018, Kroasia Buktikan pemain bintang bukan jadi jaminan sukses

Kroasia bukan tim yang punya pemain bintang seperti misalnya, Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Tapi Kroasia justru bisa ke final Piala Dunia 2018. Kroasia tak berstatus unggulan saat datang ke Rusia. Tergabung di Grup D, Kroasia bersaing dengan Nigeria dan Islandia untuk mendampingi Argentina ke babak berikutnya. Namun Kroasia membalikkan prediksi. Tim kuda hitam ini berhasil lolos babak fase grup, juga mengalahkan tim Messi cs dengan 3-0.

Sampai di fase knockout, laju Kroasia memang tak sepenuhnya mulus. Namun Mario Mandzukic dkk. menunjukkan ketangguhan mental untuk melewati dua adu penalti dan satu pertandingan sampai extra time untuk mencapai babak final.

Pelatih Kroasia Zlatko Dalic menekankan bahwa kesuksesan timnya tersebut berkat kemampuan bermain sebagai sebuah tim.

“Bagi saya, Messi adalah pemain terbaik di dunia dan Neymar mendekati. Tapi di Piala Dunia ini, tim bertabur bintang yang mengandalkan nama-nama besar sudah di pantai. Justru tim yang padu, bersatu memperjuangkan sesuatu, yang masih bertahan,” ujar Dalic

“Ini adalah Piala Dunia paling aneh. Sepakbola sudah sangat maju jadi tim mana pun bisa punya pertahanan yang rapi, jadi tidak ada lagi kemenangan dengan skor mencolok dan tim adalah segalanya.”

“Ini adalah masalah kami selama 10 tahun, kami punya individu-individu hebat tapi tidak ada kesatuan dan itulah mengapa saya harus membangun kesatuan itu untuk tim.”

Seberapa Pantas Indonesia Ikut Tampil dalam Pemilihan Kandidat Tuan Rumah Piala Dunia

Seberapa Pantas Indonesia Ikut Tampil dalam Pemilihan Kandidat Tuan Rumah Piala Dunia?

Jika dilihat menjadi negara tuan rumah Piala Dunia merupakan kebangaan tersendiri. Secara tak langsung popularitas negara menjadi meningkat dan terkenal di seluruh dunia. Bahkan dapat membantu mengembangkan berbagai macam aspek pemerintahan, seperti ekonomi, politik, sosial, dan sektor pariwisata. Selain itu juga memudahkan negara tersebut jika ingin menjalin kerjasama dengan pihak lain yang punya kekuatan besar.

Contohnya saja seperti Rusia dimana telah mengalami hal serupa karena berhasil memenangkan pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 periode ke-21. Terlebih lagi cara terpilihnya melalui dua kali voting sehingga dapat dikatakan menang dengan murni. Meskipun pada waktu itu sempat terjadi skandal isu suap oleh Rusia terhadap beberapa anggota komite FIFA yang kemudian lewat hasil investigasi tidak ditemukan bukti kuat. Dengan begitu FIFA dianggar bebas dan Rusia diresmikan sebagai tuan rumah secara resmi tanpa terkecuali.

Sejak tanggal 2 Desember 2010 silam, negara Beruang Putih telah menduduki jabatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018. Bahkan dari situ pula sudah ada berbagai macam keuntungan dirasakan sampai detik ini dimana pertandingan sudah berjalan setengah bulan. Yang paling kentara yaitu mengenai kenaikan pendapatan negara melalui bidang ekonomi. Hal ini dikarenakan banyaknya turis atau warga pendatang baru yang ingin berkunjung sekaligus menyaksikan Piala Dunia secara langsung. Tentunya mereka tak hanya menghabiskan satu haru demi menonton saja namun juga melakukan berbagai macam kegiatan ataupun keperluan lainnya. Dengan begitu para wisatawan memerlukan penginapan atau hotel, membeli perlengkapan pribadinya, makanan, bahkan merchandise khas Rusia serta Piala Dunia. Momen tersebut dimanfaatkan pemerintah negara bersama para rakyat untuk mencari keuntungan, misalnya dengan berjualan di sepanjang stadion, menawarkan paket wisata, promo tour, dan sebagainya. Hal ini juga dapat mendukung promosi dalam sektor pariwisata Rusia.

Indonesia Mengaku Sanggup Gantikan Qatar

Sebagian besar orang berfikir apabila negara-negara kandidat tuan rumah turnamen World Cup sudah pasti kaya raya. Bukan hanya mempunyai aset negara besar saja melainkan juga fasilitas publik yang memadai, mulai dari infrastruktur, pembangunan properti, stadion olahraga standar internasional dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan Indonesia, bisakah tanah air kita turut mendaftarkan diri menjadi kandidat tuan rumah?
Pertanyaan tersebut rupanya masih menjadi rahasia yang belum terpecahkan bahkan sampai sekarang.

Pemerintahan bahkan tiap masyarakat juga hafal bagaimana kondisi dalam negara sehingga mampu memperkirakan hal tersebut. Mengingat Indonesia masih menjadi negara berkembang dimana cukup kesulitan memenuhi standar serta syarat dari FIFA smaka sampai sekarang belum pernah sama sekali menjadi kandidat tuan rumah Piala Dunia. akan tetapi beberapa tahun lalu Menteri Pemuda dan Olahraga atau Menpora, Roy Suryo Notodiprojo sempat mengatakan jika Tanah Air sanggup mengadakan turnamen bergengsi tersebut. Bahkan ia sempat menambahkan secara tegas apabila mempunyai peluang menggantikan Qatar pada ajang Piala Dunia 2022 mendatang.

Adanya argumen tersebut bukannya secara asal dikeluarkan namun karena turut mempertimbangkan kondisi yang saat itu sedang berkecamuk. Qatar selaku pemenang tuan rumah Piala Dunia 2022 sedang dilanda skandal suap sehingga muncul kabar jika posisi tersebut bakal dicabut atau dibatalkan. Pihak FIFA tak mau ambil resiko sehingga permasalahan mengenai kasus suap masih dipertimbangkan secara matang sambil menanti hasil investigasi. Roy kemudian menambahkan lagi jika Indonesia kesulitan jika menjadi tuan rumah tiunggal karena permasalahan dana. Salah satu kendala adalah setiap tuan rumah harus menyediakan 20 stadion internasional dengan fasilitas lengkap selama pertandingan Piala Dunia berlangsung selama stau buan. Oleh sebab itu, Indonesia mengajak dua negara sahabat ASEAN untuk bekerjasama yaitu Thailand dan Vietnam.

Sudah Pantaskah Indonesia Turut Serta Jadi Tuan Rumah?

Pendapat dari Menpora sendiri tidak bisa dijadikan sebuah patokan utama karena ada begitu banyak pertimbangan. Tak bisa dipungkiri jika banyak orang menanyakan soal kepantasan Indonesia menjadi negara tuan rumah Piala Dunia 2022. Mengingat begitu banyak syarat harus dipenuhi, misalnya saja stadion megah, uang pajak FIFA, pembangunan negara, infrastruktur, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah beberapa analisis singkat mengenai pantas tidaknya Indonesia menjadi tuan rumah!

  1. Kualitas Stadion
    Hal paling utama dipikirkan adalah mengenai kualitas dari turf dan seats di dalam stadion. Sebagai masyarakat, kita semua pasti sudah tau bagaimana kondisi stadion sepak bola Indonesia dimana masih belum tertata rapi dan bagus. Disamping itu juga ruangannya masih terbuka sehingga terkena panas matahari serta guyuran air hujan. Hal ini juga meliputi fasilitas lain seperti kursi para penonton turnamen dimana dianggap masih sedikit, belum memenuhi standar dan pelayanannya kurang memuaskan. Misalnya saja tidak ada pembagian antara baris kursi reguler, VIP dan VVIP.
  2. Sarana Transportasi
    Kedua setelah membahas stadion yaitu bidang transportasi yang meliputi tempat maupun armadanya. Ini juga tergolong sangat penting karena para negara peserta Piala Dunia akan sangat dimudahkan sekali selama turnamen jika Indonesia mempunyai bandara atau stasiun berstandar internasional untuk berpindah dari lokasi pertandingan satu ke lainnya. Dengan begitu pemerintah harus mulai memikirkan apa saja jenis transportasi yang nantinya akan diberikan kepada para peserta tersebut. Belum lagi ketika para wisatawan dan penonton internasional turut datang ke negara tuan rumah sehingga memadati jalur transportasi tersebut.
  3. Sarana dan Media Broadcaster
    Indonesia paling tidak harus menyediakan fasilitas bagi media massa, jurnalis dan penunjang media broadcaster untuk menyampaikan berbagai macam berita seputar Piala Dunia secara langsung ataupun tidak. Beberapa stasiun TV terkemuka pasti turut hadir seperti Eurosport, ESPN, Canal+ dan scebagainya. Dengan begitu negara tuan rumah membutuhkan aneka macam fasilitas seperti koneksi internet cepat antara 50 sampai 100 mbps di sekitar stadion agar mereka dapat mengirimkan berita ke seluruh dunia secara cepat.
  4. Tempat Latihan Peserta
    Para peserta Piala Dunia dari berbagai negara tidak mungkin akan tiba di negara tuan rumah di hari turnamen. Mereka biasanya sudah stand by beberapa hari atau bahkan minggu sebelum jadwal permainan dimulai. Selama menunggu giliran bertanding maka tim nasional suatu negara akan melakukan latihan secara rutin untuk memaksimalkan penampilan. Indonesia juga wajib menyediakan camp dan training ground atau area berlatih bagi mereka dengan fasilitas yang lengkap juga.
  5. Memaksimalkan Kualitas Tim Nasional
    Tim nasional Indonesia sudah sangat bagus namun belum cukup setara dengan para pemain kelas kakap Eropa ataupun Amerika. Hal ini dibuktikan dengan masuknya timnas kita di urutan 157 di seluruh dunia sehingga kurang meyakinkan untuk berlaga dengan negara kuat lainnya. Apalagi FIFA jelas tak ingin menyelenggarakan pertandingan sekelas Piala Dunia di negara yang belum mempunyai pengalaman sama sekali.

Jadi bisa kita simpulkan sendiri bagaimana peluang bagi Indonesia jika ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan? Bukannya tidak mungkin namun nampaknya perjalanan menuju kesana masih sangat panjang. Mengingat Indonesia harus lebih fokus membangun negeri dan mengayomi rakyatnya. Padahal untuk menjadi seorang tuan rumah World Cup maka modal yang dikeluarkan tidaklah sedikit, misalnya saja Rusia menghabiskan sekitar 11,8 miyar dollar AS setara dengan ratusan triliun rupiah. Bagaimana, sangat mengejutkan bukan?

Indonesia Berpeluang Menjadi Kandidat Tuan Rumah FIFA World Cup 2034, Benarkah Demikian

Indonesia Berpeluang Menjadi Kandidat Tuan Rumah FIFA World Cup 2034, Benarkah Demikian?

Kini yang menggelar perhelatan bergengsi Piala Dunia 2018 adalah Rusia yang sebenarnya telah dipilih sejak sembilan tahun lalu. Negara tersebut melalui tahapan panjang bahkan sempat mengalami berbagai macam kejadian tak enak. Setelah Presiden FIFA mengumumkan pemenang voting pada tanggal 2 Desember 2010 lalu, muncul sebuah skandal besar. Rusia dituding menggunakan cara tak tidak fair dalam proses bidding atau pengambilan suara. Kabarnya beberapa komite FIFA yang bertanggung jawab terhadap jalannya turnamen Piala Dunia 2018 telah mendapatkan uang suap agar negara tersebut berhasil menang. Ditambah lagi pemilihan tersebut diselenggarakan di waktu yang sama dengan Piala Dunia 2022 dimana Qatar keluar sebagai pemenang.

Karena tak ingin memperburuk keadaan maka FIFA angkat bicara dan mengadakan investigasi. Hasil laporan telah dibuat dan langsung diserahkan kepada badan khusus yang menangani kasus tersebut. Mantan pengacara kondang dari AS sengaja tidak mempublikasikan laporan investigasi karena dapat melanggar kode etik. Setelah itu FIFA dinyatakan bebas dan Rusia tetap menjadi tuan rumah di tahun 2018.

Melihat begitu besarnya ambisi beberapa negara untuk menyandang jabatan tuan rumah Piala Dunia makin membuat masyarakat penasaran. Terutama mengenai apa saja keuntungan dari posisi tersebut bagi negara yang bersangkutan? Pastinya sudah bukan rahasia umum lagi jika ada unsur politik dan bisnis di baliknya dimana menjadi kesempatan emas bagi pihak-pihak tertentu untuk mencapai tujuannya masing-masing. Tak terkecuali Rusia yang sampai sekarang mendapatkan keuntungan karena berhasil menyelenggarakan Piala Dunia. Tidak heran apabila negara lain tergiur dengan peluang emas tersebut dan kemudian turut mendaftarkan diri sebagai kandidat di periode lain, salah satunya seperti Indonesia.

Indonesia berencana Ikut Pemilihan Tuan Rumah Piala Dunia

Siapa yang tak ingin menuai popularitas skaligus keuntungan menjadi tuan rumah dalam Piala Dunia? Terdapat kabar bila Indonesia mempunyai rencana turut serta dalam pemilihan kandidat negara tuan rumah untuk Piala Dunia tahun 2034 mendatang. Meskipun masih sangat lama namun hal tersebut dapat dipersiapkan mulai dari sekarang agar segala sesuatunya berjalan lebih lancar. Meskipun keputusan tersebut juga dapat menguntungkan negara namun beberapa pihak menganggapnya sebagai pemikiran nekat mengikuti bidding Piala Dunia.
Seperti yang sudah semua orang ketahui jika tidaklah mudah mengikuti tahapan pemilihan tuan rumah World Cup. Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA memberikan berbagai macam syarat khusus bagi negara yang ingin menjadi tuan rumah, diantaranya harus membayarkan sejumlah pajak pada pihak tersebut, mempunyai stadion taraf internasional sebanyak 20 bangunan, infrasturtur negara yang bagus, fasilitas memadai dan lain sebagainya. Tentunya bukan menjadi hal mudah bagi Indonesia mengingat kondisi perekonomian masih labil serta pembangunan berjalan kurang lancar bahkan sering tersendat.

Masih Mempunyai Peluang Besar

Bukan suatu hal yang salah apabila Indonesia berniat mendaftarkan diri sebagai negara kandidat. Kenyataannya memang keadaan negara bisa dibilang kurang layak untuk menggelar turnamen bergengsi Piala Dunia. Akan tetapi setidaknya masih ada waktu puluhan tahun lagi sehingga Indonesia dapat mempersiapkan segalanya sejak awal. Jika ditimbang ulang ternyata Tah Air masih mempunyai peluang besar mengikuti bidding tersebut dan menjadi tuan rumah selanjutnya pada tahun 2034. Adapun beberapa alasannya yaitu sebagai berikut:

  1. Banyak Penggemar Sepak Bola
    Bagaimana mugkin menyelenggarakan pertandingan bola jika negara tersebut tidak menyukai jenis olahraganya. Sebagian besar atau bahkan hampir semua warga Indonesia begitu mencintai sepak bola bahkan terdapat tim di tiap kota atau provinsi masing-masing. Mulai dari Sabang sampai Merauke ramai dipenuhi
  2. Masih Punya Banyak Waktu
    Alasan lain mengapa Indonesia layak dan berkesempatan jadi tuan rumah adalah karena waktunya masih panjang. Mulai dari 2018 sampai 2034, berarti setidaknya negara dapat melakukan pembenahan dan penataan lagi selama 16 tahun agar mampu memenuhi standar FIFA. Salah satunya yaitu memperbaiki infrastruktur, membangun stadion secara perlahan, menambah fasilitas, dan bidang transportasi.
  3. Indonesia Unggulkan Sektor Wisata
    Meskipun tidak ada hubungannya dengan Piala Dunia namun sektor wisata mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi negara lain. Tidak menutup kemungkinan apabila negara-negara anggota FIFA akan lebih memilih Indonesia dalam bidding karena tertarik akan kekayaan wisata di dalamnya.
  4. Saingannya Makin Sedikit
    Bukan rahasia lagi jika negara kita selalu berselisih dengan negara tetangga yaitu Malaysia. Selain itu Singapura juga seringkali menjadi ancaman besar karena meskipun wilayahnya kecil namun negara tersebut sangatlah maju. Kabar gembira datang ketika kedua negara tetangga tersebut memutuskan menarik diri dari pemilihan Piala Dunia tahun 2034 mendatang. Adapun alasannya karena warga Singapura kurang antusias terhadap ajang bergengsi tersebut. Sementara itu Malaysia mempunyai alasan lain dimana pemerintahannya merasa kecewa terhadap sikap AFC yang menolak pembagian grup dalam acara SEA Games 2017 kemarin. Karena dua negara pesaing sudah mengundurkan diri maka meciptakan sebuah kesempatan besar bagi Indonesia untuk terus melajut ke proses bidding.
  5. Dapat Bantuan dari Thailand
    Salahs atu negara sahabat yang termasuk juga dalam kawasan ASEAN yaitu Thailand memberikan bantuan kepada Indonesia. Pemerintah begitu sadar jika Indonesia tidak mungkin menjadi tuan rumah tunggal dan menanggung beban modal sendirian. Oleh sebab itulah Thailand menawarkan bantuan untuk bergabung menjadi tuan rumah bersama Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Presiden FAT atau Asosiasi Sepak Bola Thailand, Somyot Poompunmuang dimana pihak mereka setuju dan bersedia menjadi partner Indonesia untuk maju ke pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2034. Dukungan juga datang dari Dato Sri Azzuddin Ahmad, Presiden AFF atau Federasi Sepak Bola Asia tenggara. Ia mengatakan apabila kedua negara yaitu Indonesia dan Thailand mampu berkerjasama untuk menjadi tempat turnamen Piala Dunia.
  6. Dukungan dari FIFA
    Selaku panitia sekaligus penyelenggara Piala Dunia, FIFA memberikan dukungan kepada Indonesia dan Thailand. Salah satu anggota Dewan dari FIFA yaitu Tengku Abdullah menanggapi kabar tersebut dengan komentar positif. Ia sangat yakin apabila kedua negara dapat bersatu untuk memenangkan bidding. Sudah waktunya jika Piala Dunia 2034 diselenggarakan di kawasan Asia Tenggara karena sebelumnya belum pernah sama sekali.

Masuknya Indonesia dalam kandidat pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2034 sangat diharapkan masyarakat. Terlebih lagi setelah mengetahui jika rencana tersebut mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terkuat seperti Thailand, AFF bahkan FIFA sekalipun. Apabila mimpi tersebut berhasil terwujud maka akan menjadi cambuk bagi pemerintahan Indonesia supaya lebih gencar lagi dalam membenahi negara, mulai dari mensejahterakan rakyat, meningkatkan pembangunan ke arah yang lebih baik dan fasilitas memadai lainnya. Dengan begitu ketika momen Piala Dunia selesai maka masih ada warisan setelahnya yang mampu mendatangkan manfaat serta keuntungan bagi Indonesia.