Selamat datang di KINGKONGBET.COM, dapatkan cashback sd 10 %, referall sd 10%, dan berbagai promo menarik lainnya.

Benarkah Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia Membuat Kaya? Berikut Ini Fakta Sebenarnya!

Benarkah Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia Membuat Kaya Berikut Ini Fakta Sebenarnya!

Jika dipikir secara praktis, negar-negara yang menjadi tuan rumah dalam ajang bergengsi Piala Dunia langsung melejit namanya. Setiap detik berita mengenai daerah tersebut ramai diperbincangkan dan menjadi bahan pencarian nomor satu di internet. Tak berakhir dengan popularitas semata melainkan keuntungan lain mulai dari aspek ekonomi sampai meningkatkan sektor pariwisata.

Bayangkan saja begini, suatu negara tuan rumah secara otomatis didatangi aneka ragam turis asing yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Karena letaknya sangat jauh maka tidaklah mungkin mereka berada selama satu hari saja dengan keperluan hanya menonton satu laga pertandingan di suatu kota. Akan tetapi biasanya para turis internasional tersebut akan menginap selama beberapa hari atau bahkan berminggu-minggu supaya bisa mengikuti laga turnamen berikutnya. Dengan begitu mereka harus memenuhi berbagai macam keperluan selama tinggal di negara tuan rumah, mulai dari penginapan, membeli kebutuhan sehari-hari, makanan, pakaian, dan juga merchandise khas Piala Dunia. Hal tersebut tentunya dimanfaatkan oleh penduduk asli negara yang jadi tuan rumah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi seperti berjualan makanan di sepanjang stadion, pakaian ganti, pernak-pernik cantik, baju bola dan lain sebagainya. Meskipun terdapat banyak sekali penjual namun nyaris semuanya mendapatkan pendapatan tinggi setiap hari karena meningkatkan pengunjung dan penonton Piala Dunia.

Sementara itu untuk bagian pariwisata secara tidak langsung menerima imbas dari euforia pertandingan Piala Dunia. Pemerintah negara tuan rumah akan gencar melakukan promosi berbagai macam aset negara khususnya tempat wisata dengan berbagai macam cara. Misalnya saja dengan memberikan promo wisata, paket tour murah, penawaran langsung di dekat stadion dan masih banyak lagi lainnya. Walaupun para turis dan penonton lebih fokus dengan tujuan utama menyaksikan turnamen namun bukannya tak mungkin mereka akan tertarik mengunjungi beberapa tempat tersebut. Terlebih lagi bagi yang memang sekalian ingin melakukan travelling santai di negara tuan rumah, sambil menanti jadwal pertandingan timnas favorit maka dapat berjelajah menikmati keindahan kota terlebih dahulu. Cara ini juga mampu meningkatkan pendapatan negara dengan cepat sekaligus membuatnya semakin populer di mata dunia. Jadi jangan heran jika posisi tuan rumah Piala Dunia begitu diincar hampir oleh tiap negara meskipun pada kenyataannya pemerintahan harus mengeluarkan modal tak sedikit.

Ada Ruginya Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia

Kebanyakan orang hanya melihat secara sekilas mengenai keuntungan tuan rumah Piala Dunia saja tanpa melihat sisi sebaliknya. Ternyata jika dihitung-hitung, jumlah kerugian menyandang posisi sebagai tuan rumah mempunyai kerugian jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Hal ini disebabkan negara-negara tersebut harus mengeluarkan budget lebih besar untuk mempersiapkan pertandingan yang berjalan selama satu bulan. Adapun beberapa hal yang tersebut mulai dari pajak FIFA, pembangunan tiap kota yang diajukan, stadion baru, mengurus penginapan dan kebutuhan para peserta, membangun transportasi, memperbaiki infrasturktur, dan fasilitas lainnya. Tujuannya tentu saja supaya memudahkan para tim nasional atau peserta Piala Dunia yang berasal dari berbagai negara ketika bertanding ke negara tujuan. Sementara itu agar menarik perhatian turis internasional yang nantinya bertandang untuk menonton Piala Dunia sekaligus menikmati segala fasilitas di negara tuan rumah. Tak lain lagi jika hal ini akan berujung pada bisnis dan tahapan mengambil keuntungan dari acara bergengsi Piala Dunia. Akan tetapi, apakah keuntungan tersebut setara dengan pengeluaran negara atau malah membuatnya merugi?

Mengambil Contoh dari Negara Rusia

Sebagai contoh awal kita perhatikan negara Rusia yang saat ini tengah bergeliman rasa bangga karena menduduki popularitas pertama di dunia. Negara Beruang putih ini secara resmi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 periode ke-21 sejak 14 Juni dan akan berakhir tanggal 15 Juli mendatang. Pemerintahnya sudah menghabiskan uang belasan milyar dollar bahkan lebih untuk mengurus turnamen tersebut. Setelah terpilih pada tanggal 2 Desember 2010 silam, Rusia segera mempersiapkan diri menyamput ajang berkelas supaya terlihat hebat dan disegani.

Pihak FIFA memberikan syarat rumit sebagai tuan rumah, seperti harus memiliki setidaknya 20 stadion taraf internasional, hotel dan penginapan mewah untuk para peserta, pembangunan kota, dan fasilitas tambahan lainnya. Belum lagi jumlah pajak harus dibayarkan pihak Rusia kepada FIFA begitu banyak. Kemudian ditambah dengan total seluruh anggaran pembangunan negara untuk persiapan menyambut Piala Dunia menghabiskan dana kurang lebih 11,8 milyar dollar setara dengan 165 triliun rupiah. Menurut laporan dari Martin Muller, Universitat Zurich, terdapat 51% dana pengeluaran untuk sarana transportasi dan infrasturktur. Semua uang tersebut didapatkan dari anggaran negara, sektor swata dan regional atau intinya berasal dari publik Rusia.

Kerugian yang Sama Terjadi di Negara Lain

Baru-baru ini Rusia menjadi negara yang paling banyak diperbincangkan. Lebih mengejutkan lagi ketika negara tersebut menghabiskan dana paling besar sebagai tuan rumah sepanjang sejarah Piala Dunia. Sebelumnya predikat tersebut dipegang oleh Brazil pada tahun 2014 silam karena sempat populer dengan adanya panggung Piala Dunia paling megah dan spektakuler. Pada saat itu pemerintahan Brazil mengeluarkan dana sebesar 900 juta dollar atau tiga kali lipat dari batas perkiraan pengeluaran Piala Dunia.

Saatnya mengambil contoh kerugian lain yang juga dialami oleh Afrika Selatan dimana menjadi tuan rumah pada Piala Dunia 2010. Sebelum diselenggarakan, tahun 2004 sempat diperkirakan dana anggaran pembangunan Afrika Selatan hanya mencapai 170 juta dollar saja. Angka tersebut sudah lebih dari cukup bahkan sangat besar dibandingkan negara tuan rumah sebelumnya. Rencananya tindakan pertama yang akan dilakukan adalah membangun beberapa stadion serta infrasturktur saja. Hal ini karena stadion yang sudah ada memang masih sangat layak untuk dipergunakan sebagai tempat bertanding selama turnamen. Akan tetapi keputusan awal akhirnya diganti karena komplain dari pihak sponsor yang ingin mendapatkan fasilitas lebih baik. Ketika itu semua stadion Afrika Selatan tidak mempunyai atap sehingga para pemain dan penonton akan kepanasan bahkan kehujanan. Ditambah lagi panitia FIFA menuntut agar semua fasilitas dan bangunan dibuat sesempurna mungkin dan para pejabat negara ingin membangun stadion megah di tiap kota. Akhirnya anggaran dana membengkak sampai 10 kali lipat dari perkiraan awal untuk memenuhi segala permintaan tersebut.

Bagaimana, masihkan berfikir jika negara tuan rumah Piala Dunia akan menjadi kaya raya secara mendadak selama turnamen berlangsung? Nyatanya tidak karena belum tentu pendapatannegara mampu menutupi modal awal yang dikeluarkan untuk pembangunan fasilitas gedung stadion, infrastruktur, penginapan mewah, dan lain sebagainya. Meskipun hal tersebut sangat disadari oleh tiap negara di seluruh dunia namun mereka tetap mempunyai ambisi besar jika suatu hari nanti akan menjadi tuan rumah World Cup. Nampaknya keinginan tersebut sudah menjadi tradisi tersendiri karena mampu meningkatkan popularitas atau hanya sekedar memenuhi gengsi semata di mata dunia.